Jumat, 30 Januari 2015

Cinta aku atau dia (cerpen)


Di suatu sore disebuah rumah makan yang terletak dipusat kota Jakarta, terlihat olivia sedang duduk menyantap makanannya. Tanpa disadarinya terlihat juga sepasang mata memperhatikannya dari sebuah kursi yang tak jauh dari tempat duduknya.
’’eh Glen,disini juga.’’ Sapa olivia saat tersadar ada glen didekatnya.
‘’iya, boleh aku duduk disitu?’’ jawab glen
‘’kenapa tidak…’’ sahut olivia.
Mereka pun mengobrol dan terciptalah keakraban diantara mereka,padahal selama 2 tahun ini mereka satu sekolahan,tapi mereka jarang sekali bertegur sapa, dan entah kenapa hari iitu dlen dan olivia terlihat akrab.
‘’besok weekend ya.. kamu ada planing kemana?” Tanya glen.
“gak ada rencana sih mau kemana. Ya paling jalan sama teman-teman” jawab olivia.
Obrolan itu terhenti saat glen menerima telepon, dan dia pamit untuk pulang lebih dulu karena mendapat panggilan untuk menjemput adiknya. Selepas glen pergi tinggallah olivia duduk sendiri lagi.
“ bosen ah, mendingan aku online dech.”gumam olivia sambil membuka akun facebooknya.
olivia meng-update status yang bertuliskan lirik sebuah lagu yang baru saja didengarnya.
“bodohnya diriku selalu menunggumu yang tak pernah untuk bisa mencintai aku.”
Beberapa saat setelah menulis status itu,mampir sebuah pemberitahuan bahwa Sisil, sahabat dekat olivia mengomentari statusnya.
“siapa sih ka? Kayaknya lagi mendam rasa ‘ma seseorang ya,, cerita dong..”
olivia memang tidak pernah menceritakan kepada siapapun bahwa selama ini dia sedang menyimpan rasa pada seseorang. Hanya diari mungilnya yang menjadi saksi bisu gundah gulana hatinya. Dia berusaha mengelak dari pertanyaan Sisil.
“gak kok,itu cuma lirik lagu aja…” jawab olivia.
Memang sudah lama olivia memperhatikan Vino,teman satu sekolahannya, namun tak ada keberanian untuk mengatakannya. Mereka hanya bisa mengobrol seperti teman biasa, dan olivia risih jika harus berhadapan dengan Vino,karena dia harus menutupi rasa gugupnya.
“hai Vin,,ujan-ujan gini mau pulang?” Tanya olivia saat bertemu Vino di parkiran sekolah.
“nunggu ujan sih lama, ujan kayak gini biasanya awet loh..” sahut Vino ramah.
“oh,ya udah..hati-hati ya,,,” pesan olivia.
Senyum mengembang di bibirnya karena baru saja berpapasan dengan pujaan hati tercinta. Sesampainya dirumah, olive masih saja teringat wajah Vino tadi,tiba-tiba dering handphone membuyarkan lamunannya. Satu pesan dari Rian, teman satu sekolahannya.
“hai Ka..lag ngapain? udah makan belum?” begitulah isi sms tersebut.
“ngapain lagi Rian nhi sms,,gak kapok-kapok juga apa.” Batin olivia kesal.
Begitulah Rian, selalu membuat Olivia risih dengan sikapnya. Selalu sms gak jelas,gak penting pula. Kalau mereka ketemu, pati selalu saja ada kejahilan yang dibuat Rian kepada olivia. Olivia sering dibuat kesal dengan sikap Rian terhadapnya yang dia sendiri tidak tahu apa maksud dan tujuan dari Rian bersikap seperti itu.
“mending aku mikirin Vino. Andai saja Vino yang sms. Aminnnnn,,”gumam olivia.
Lagi-lagi Riska meng-update status facebok-nya yang bernada sedih.
“oh mungkin aku bermimpi menginginkan dirimu….” Begitulah lirik lagu yang menjadi status facebooknya.
“aduh..ngapain sih mikirin Vino lagi,gak bisa berhenti bentar aja kenapa. Kalau bisa jangan berharap lebih deh sama dia,,lupain aja perasaan ini. Lagian dia juga gak bakalan tau perassan aku kalau aku gak ngasih tau ke dia,kalau aku cuma diem aja. Lagian ternyata susah juga nyimpan rasa ini sendirian.” Batin olivia berbicara sendiri.
Besoknya dia memutuskan untuk menceritakan tentang perasaan gundah gulananya selama ini dengan Deva, sahabatnya.
“udahlah Ka,ngapain sih ngarepin yang gak pasti. Toh, dia kan juga gak tau. Angggap aja kamu itu cuma mengagumi.” Saran Deva.
“ya niatnya sih emang mau ngelupain dia, tapi kan kita satu sekolah. Tiap hari ketemu, gimana caranya ngelupain? Mana tiap ketemu dia,aku jadi lupa sama niatku buat ngelupain dia.”
“waduh,,kenapa jadi aku yang bingung ya? Gini aja, kamu jangan maksain buat ngelupain dia, jalanin aja dulu..siapa tahu lama-lama dia bakalan nangkap sinyal-sinyal kamu dan bakalan tahu perasaan kamu ke dia. Kamu berdo’a aja.”
“eh tapi Va, gue juga ngerasa sinyal-sinyal dari dia. Kadang nih ya,aku sering ngeliatin dia.. eh kadang aku sering ketemu mata sama dia.’
“jangan-jangan tanpa kamu tahu,dia juga sering ngeliatin kamu.”
“hmm…..semoga aja, jadi aku gak galau lagi, ya gak?”
‘amiinn..aku do’ain aja deh.”
Pagi yang cerah membuka semangat baru bagi olivia untuk memulai aktivitasnya di sekolah. Lagi-lagi olivia bertemu Rian di koridor sekolah dan Rian lagi-lagi mencoba menggodanya. Dengan sengaja dia menarik tangan olivia hingga olivia tersungkur ke tubuh Rian.
“ih.kamu gak bisa diem apa. Sehari aja gak jahil bisa gak?’ serang olivia garang.
Rian pun hanya membalas dengan senyuman. Dan itu membuat olivia bertambah kesal.
“aduh Va, Rian tuh gak bisa berheti gangguin orang. Tiap malem aja pasti ada sms dari dia,yang isinya tuh gak penting banget.” Cerita olivia kepada Deva.
“wah jangan-jangan dia naksir kamu ka” goda Deva.
“ waduh..aku mohon dengan sangat,,jangan sampai itu terjadi. Aku kan pengennya deketin Vino.kenapa jadi temennya yang kecantol.”
Deva hanya tertawa melihat wajah sahabatnya itu yang sedang gusar.
Malam ini olivia merenung sambil mendengarkan lagu favoritnya. Sementara matanya tak beralih dari langit yang berhiaskan bintang berkilauan. Sesekali matanya memandang foto Vino yang kemarin dia curi dari handphone temannya.
“Vin,kapan kamu bisa ngerti perasaan aku,kapan kamu bisa tau? Aku capek mendam rasa ini sendirian Vin.kapan kamu tahu,aku disini nunggu kamu Vin.” Gumam Olive.
Untuk menghibur dirinya,dia membuka akun facebook-nya dan ada satu pesan yang ternyata dari Glen dan isinya cukup mengagetkan olivia.
“ ka..i love you.” Riska membaca pesan itu berulang kali.
Besoknya olivia langsung menceritakan itu kepada Deva.
“waduh ka,jangan-jangan Glen……” Deva menggantungkan kalimatnya.
“jangan-jangan apa Va..” Tanya olivia.
“ Ya…jangan dong Va, kemarin Rian,sekarang Glen, coba aja Vino,pasti aku tanggapin dengan senang hati.” olivia mengerti maksud kalimat Deva setelah sesaat berfikir.
“ ya udah deh..aku tahu cintanya Cuma buat Vino seorang, yang lain bisanya ngarep aja deh.” Kata Deva sambil tersenyum.
Rasa suka yang dialami olive terus hadir walaupun dia telah mencoba untuk mengabaikan rasa itu. Tiba-tiba datang Deva mengusik ketenangannya yang sedang merenung.
“ hey, olivia Vino.” Kaget Deva.
“ apaan sih, olivia aja, bukan Olivia Vino.”
“bentar lagi juga bakalan jadi Olivia Vino” goda Deva.
“Amiinn Ya Allah…..” harap olivia.
“eh, kamu tahu gak,aku denger kemarin Vino jalan sama adek kelas kita, si Yessi itu lho.”adu Deva.
“ya terserah dia lah. Aku juga gak akan terlalu berharap banyak sama dia.” Sahut olivia sedikit kecewa.
“loh,tadi baru bilang aminn, sekarang udah gitu lagi.” Goda Deva lagi.
Entah kenapa rasa itu perlahan hilang, namun tetap saja sisa-sisa cinta itu masih tertinggal dihati olivia. Suatu saat ketika dia sedang duduk bersama temannya, terlihat Vino dan Rico,teman sekelas olivia sedang ngobrol dan kelihatannya percakapannya serius. Rico pun meninggalkan Vino dan duduk di bangku dekat olivia sambil menggerutu.
“tuh anak bikin kesel aja. Apa sih maunya.” Geram rico.
Olivia hanya bisa heran melihat sikap Rico. Tiba-tiba datang lagi Vino menuju kearah Rico. Olivia mulai melihat sinyal-sinyal negatif dari wajah Vino.
“wah,dari tampangnya,kayaknya bakal ada perang nih. Gawat, aku harus cegah.” Gumam Olivia.
Saat Vino lewat didepannya.
“Vino..jangan,kalian apa-apaan sih.” Cegat Olivia.
“aku juga gak tau ka,kayaknya aku gak ngerasa punya salah sama dia,tapi dia ngajak ribut kayaknya.” Jelas Vino berhenti sebentar,lalu meneruskan jalannya ke arah Rico.
Olivia hanya bisa melihat mereka dari tempat duduknya.
“loe gak ngehargain cewek Vin,loe gak ngerti perasaan mereka.” Sergah Rico tiba-tiba.
“maksud loe apa?kok ngebahas cewek?”Tanya Vino tak mengerti.
“loe tahu,selama ini diam-diam ada seseorang yang ngarepin loe,nunggu loe. Loe gak tau kan?”
“siapa?”
“loe pikirin aja sendiri.kira-kira siapa orang itu.”
Vino hanya bisa heran dan tampak bingung mendengar perkataan Rico. Dia bertanya-tanya dalam hati,siapa yang dimaksud Rico tadi.
Olivia tiduran dikamarnya sambil mendengar mp3 di handphonenya.
“ Tuhan,kenapa sat aku mencintai seseorang. Dia tidak bisa membaca apa yang kurasakan. Namun disaat ada seseorang yang membuka hatinya untukku,aku malah tidak bisa merasakan cintanya. Kenapa aku gak bisa dicintai oleh orang yang juga aku cintai.” Gumam Olivia.
Dering handphone membuyarkan lamunannya.
“apa mungkin aku hanya bisa berharap tanpa bisa memilikinya.” Olivia membaca sms yang ternyata datang dari Rico.
“maksudnya?” Olivia bertanya-tanya sendiri.
Otak Olivia mulai berimajinasi. Selama ini sikap Rico memang baik dengannya dan mereka cukup akrab.
“ah,tapi gak mungkin. Sikap dia kan cuma sebatas teman aja,gak lebih kok.” Olivia menepis pikiran itu.
Sementara itu, Vino masih kepikiran dengan ucapan Rico. Dia masih mencari-cari siapa yang diam-diam menunggunya selama ini.
“udah tahu orangnya?” Tanya Rico saat mereka berpapasan di kantin sekolah.
“belum.siapa sih” Tanya Vino.
“yakin mau tahu” Tanya Rico lagi.
“cepetan lah Co,gue penasaran nih.”
“ Olivia Oktaviani alias Olive”
“gak mungkin Co. loe tau darimana?” Tanya Vino,tidak yakin dengan ucapan Rico.
“gue denger dari mulut dia sendiri saat dia sedang curhat dengan Deva dikelas. Gue gak sengaja denger.sekarang loe tahu kan,dan gue harap loe bisa dewasa nentuin sikap.jangan biarkan dia nunggu loe terus dengan harapan-harapan kosong yang bakal nyakitin dia.” Jelas rico.
“maksudnya?” Vino bertambah bingung.
Pertanyaan itu diabaikan Rico,dan dia berlalu pergi meninggalkan Vino. Akhirnya Vino memutuskan untuk menanyakan sendiri dengan Olivia.
“ ka, bener apa yang dibilang Rico kalau selama ini loe diam-diam merhatiin gue?”
Olive pun kaget membaca isi sms yang datang dari Vino tersebut. Dia pun bingung harus menjawab apa, lalu diabaikannya sms Vino.
Besoknya di sekolah, kebetulan Olive berpapasan dengan Vino dan Vino langsung memanfaatkan kesempatan itu.
“ Ka, kenapa semalem kamu gak jawab pertanyaan aku? Bener apa yang dibilang Rico?” sergah Vino.
Tak sengaja Rico lewat dan Vino langsung mencegat Rico.
“ co, jelasin apa yang loe bilang sama gue kemaren?”
“loe tahu darimna Co?” Tanya Olivia.
“gue gak sengaja denger curhat loe sama Deva waktu itu.”
“trus kenapa loe bilang semuanya sama Vino.” Tanya Olive lagi,dan Rico pun terdiam.
“ jawab co, kenapa?”
“sampai kapan loe mampu mendam rasa ini sendirian ka. Gue gak mau liat loe sedih karena cinta loe gak pernah dibalas. Bahkan Vino mungkin gak akan tahu kalau gue gak bilang langsung sama dia...” Jelas Rico
“tapi Rico…”
“ gue Cuma mau liat loe seneng Ka.” Potong Rico.
Olive terdiam dan dia menatap Rico.
“maksud loe?” Tanya Olive lagi sambil menatap Rico.
“loe ingat sms gue dulu ke loe. Itu isi hati gue Ka.” Olive teringat sms Rico waktu itu, dan dia menarik nafas perlahan sambil menundukkan kepala.
”karena gue ingin loe bahagia,jadi gue bilang semuanya sama Vino Ka.’ Lanjut Rico lagi.
“Rico…terus gimana…”
“gue gak apa-apa Ka. Asal loe bahagia.” Rico memotong kalimat Olive.
Olive diam dan mengalihkan pandangannya ke arah Vino.
“ Vin.itu semua benar. Tapi itu dulu,dan sekarang gue udah gak ngarepin balasan dari loe lagi. Lagian gue juga gak mau maksa loe buat nerima gue. Karena gue tahu, loe gak akan bisa mencintai gue seperti gue dulu ke loe.” Jelas Olive.
“maksud loe Ka?” Tanya Rico dan Vino serempak.
“ya,gue udah ngubur perasaan itu dalam-dalam. Dan sekarang gue gak lagi ngarepin Vino kok, loe tenang aja Vin. Gue gak akan maksa loe buat suka sama gue lagi.”lanjut Olive.
“sekarang ada orang yang benar-benar sayang sama loe. Apa harapan itu ada untuk dia?” Tanya Vino sambil menunjuk rico.
“jujur gue juga sayang loe Co.sikap loe,kebaikan loe. Itu yang bikin gue juga sayang loe. Tapi gue gak bisa nerusin rasa itu karena gue gak mau persahabatan kita rusak gara-gara itu. Karena loe udah jadi teman aja loe udah bikin gue bahagia kok punya teman kayak loe.” Jelas Olive.
“loe bener ka.persahabatan kita lebih penting.” Jawab Rico.
“lagian,loe masih bisa kok sayang sama olive sebagai kakak ’ Sambung Vino.
“iya dong, gue kan juga sayang sama Rico. Tapi Cuma sebagai sahabat. Loe gak perlu berubah kok sama gue,sikap loe,kebaikan loe. Contohnya sekarag aja.mumpung masih dikantin nih,boleh dong ya mesen satu mangkok aja.laper ni habis klarifikasi tadi.”canda Olive.
“yeee ujungnya gak enak tuh.” Balas Vino.
Dan akhirnya semuanya berkahir bahagia. 3 hati itu tetap bisa saling menyayangi sebagai sahabat  

"Sahabat itu gak cuma ada dalam kebahagian semata tapi sedia pundak saat kesedihan sahabat lainnya,Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, begitu pula Tuhan memperkenalkan kita, kau pasti punya peran di hidupku "
" Kebanyakan orang di dunia manusia selalu mengambil keputusan begitu saja atas apa yang mereka lihat "
" Saat kau menemukan keberanian untuk menyerahkan hidupmu demi seseorang, Saat itulah kau akan memahami cinta"
Terima kasih telah membaca

Rabu, 28 Januari 2015

Tips agar sehal selalu


Memiliki badan yang sehat dan bugar adalah keinginan setiap orang tetapi banyak orang yang terlalu sibuk bekerja sehingga lupa dengan kesehatannya sendiri. Sebenarnya untuk mendapatkan tubuh yang sehat dan bugar tidaklah susah dan juga tidak harus mahal. Berikut tips-tips Agar Badan Selalu Sehat Dan Bugar :

– Setiap pagi, usahakan untuk selalu melakukan olahraga secara teratur. Ini bertujuan untuk menjaga kondisi tubuh agar selalu sehat dan bugar.

– Makanlah dengan porsi yang wajar. Di khawatirkan badan anda akan mengalami kegemukan dan riskan terkena penyakit yang terkait dengan kegemukan atau obesitas.

– Hindari makanan cepat saji dan minuman yang beralkohol.

– Perbanyak konsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan.

– Penuhi makanan yang berserat setiap harinya. Makanan yang berserat yaitu apel, wortel maupun kacang-kacangan. Fungsi makanan berserat ini yaitu menjaga tubuh dari serangan bakteri.

– Penuhi kebutuhan vitamin D. Karena vitamin D ini berfungsi untuk menstimulus sel imun untuk menghalau virus dan bakteri. Vitamin D dapat ditemukan pada sinar matahari, telur, hati dan ikan.

– Jangan terlambat makan apabila sudah waktunya.

– Minum air minimal 8 gelas / hari.

– Jangan merokok.

– Hindari duduk terlalu lama karena dapat membuat badan anda menjadi cepat lelah.

– Dan yang terakhir, istirahat yang secukupnya.

Dari tips di atas ada dua hal yang paling penting, yaitu menonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan dan menghindari duduk yang terlalu lama. Sebab salah satu pemicu yang menyebabkan munculnya penyakit mematikan seperti kanker dan jantung malah diakibatkan dari kebiasaan duduk Anda yang terlalu lama. Untuk mengimbangi hal tersebut, para ahli menganjurkan agar selalu mengonsumsi makanan yang sehat seperti sayur-sayuran hijau dan buah-buahan. Dan jangan lupa untuk tidak merokok dan minum-minuman yang berakohol karena hal ini sangat tidak baik kesehatan tubuh Anda.

Cinta dan Nafsu dalam kisah Asmara Remaja Sekarang

Banyak muda-mudi jaman sekarang yang asyik masuk terseret dalam pergaulan bebas. Pacaran seolah menjadi budaya. Pacaran menjadi nuansa bagi mereka untuk menuangkan rasa cinta pada sang kekasih. Rasa rindu ingin bertemu selalu menghantui mereka, para remaja yang sedang dimabuk cinta. Malangnya, ajang bercengkerama dua anak manusia berlainan jenis (bukan muhrim) ini lebih digemari daripada membaca buku-buku motivasi atau kegiatan positif lainnya. Lebih malang lagi, tontonan sinetron-sinetron di televisi lebih memperparah lagi keadaan ini.
Tak dapat dipungkiri lagi, di masa sekarang, ada keprihatinan mendalam di balik fenomena itu. Dengan “mengatasnamakan cinta”, muda-mudi itu banyak yang lupa akan batasan-batasan yang digariskan agama. Melalui ajang yang disebut pacaran itu, terjadilah sebuah interaksi intensif dari perasaan saling suka, sering bertemu, dan seterusnya yang berujung pada terjadinya berbagai kontak fisik dalam kesempatan yang sepi berdua. Tak jarang mereka sampai terjerumus ke jurang perzinaan, karena tak bisa mengendalikan diri. Akhirnya, hubungan yang awalnya istimewa bagi mereka, menjadi penyebab terjadinya dosa besar dan hancurnya masa depan bagi pelakunya. Sekali lagi, sebelumnya mereka melakukannya dengan “mengatas namakan cinta”.
Ada kisah nyata seorang wanita yang dulu masih duduk dibangku SD. Dia adalah gadis yang manis menurut penilaian umum. Walau sedikit centil, ia banyak disukai teman-temannya. Sejak SD ia sudah telibat hubungan asmara dengan kakak kelas yang juga masih tetangga saya. Walau itu mungkin cinta monyet, namun kisah itu terus berlanjut hingga SMA. Malangnya, ketika masih kelas 1 SMA, si gadis ternyata telah berbadan dua sehingga mau tidak mau harus kawin sangat muda. Tak berapa lama, keluarlah anaknya dari rahimnya sehingga dapat dikata ABG (Anak Baru Gede) tiba-tiba mengeluarkan anak yang bisa “gede”. Setelah semua itu terjadi, hilanglah masa-masa indah si gadis dalam berproses menjadi manusia dewasa. Dia harus menjadi sosok ibu di saat jiwanya masih pancaroba, sementara gadis-gadis lain sedang menikmati kebebasan mencari jati diri. Dia kini kelihatan sudah tua dengan badan gemuknya layaknya ibu-ibu kelahiran era 70an. Kecantikannya hanya terlihat sekejap mata setelah bencana itu tak dapat dihindarinya. Ia telah kehilangan masa mudanya… Lalu, siapa yang salah?
Begitu naifkah, kata cinta yang harusnya dijaga kesuciannya, menjadi ternoda. Lalu, benarkah itu cinta? Ataukah hanya nafsu yang terkamuflase? Jadi, ketika sepasang muda-mudi sedang asyik berduaan, sebenarnya cinta ataukah nafsu mereka yang “berbicara”? Apakah emosi ataukah akal sehat mereka yang lebih dominan?
Jika ada seorang gadis yang berkata pada kekasihnya, “Kuserahkan segala milikku untukmu sebagi bukti cintaku padamu…” Dia menganggap itu sebagai sebuah pengorbanan karena cinta. Tapi begitukah pengorbanan untuk cinta? Ataukah itu untuk nafsu? Apakah beda antara cinta dan nafsu?
Ada seorang pemuda menanyakan pada pacarnya, “Bila kau benar cinta padaku, apa buktinya?” Atau dalam kesempatan lain, “Sebagai bukti cinta, maukah kau kucium, kupeluk… (dan seterusnya).” Atau dalam kasus lain, jika yang minta ini itu adalah sang gadis, dan ketika si pemuda menolaknya lantas dibilang pengecut. Apakah harus begitu membuktikan cinta?
Begitu mudahkah mengatas namakan “cinta” untuk suatu perbuatan dosa. Apakah itu benar cinta, atau itukah yang dinamakan nafsu? Yah, sebagai makhluk jenius yang dikaruniai akal budi yang sempurna, kita sebagai manusia pasti tahu perbedan keduanya, antara nafsu dan cinta. Dan sebagai generasi muda yang terpelajar, sudah sepantasnyalah kita tidak mencampuradukkan kedua hal itu untuk melegalkan hasrat (baca: hawa nafsu) kita.
Sekarang adalah era informasi yang serba canggih, bukan era manusia gua ratusan abad yang lalu. Manusia semakin cerdas dan punya peradaban tinggi. Jadi, harus tahu apa itu arti cinta yang sesungguhnya, dan jangan menodai makna cinta dengan pelampiasan hasrat nafsu birahi dengan mengatasnamakan cinta.
Begitu memprihatinkan pergaulan bebas muda-mudi di jaman ini, yang melegalkan perbuatan maksiat sebagai sebuah kebiasaan yang wajar. Hal itu bukan tanpa bukti. Ada wanita yang berkisah langsung dan katanya ingin bertaubat. Ada juga laki-laki yang berkisah dengan perasaan bangga tanpa ada niat memperbaiki diri sedikitpun. Ada juga cerita dari teman yang sering dijadikan curhat teman-temannya. Pendek kata, kita harus mengurut dada mengetahui realitas kelabu ini. Mereka ada di tengah-tengah kita. Itu terjadi di tengah-tengah kita.
Belum lagi banyaknya kasus-kasus pergaulan intim muda-mudi di luar nikah yang menghebohkan, direkam layaknya film dokumenter, namun akhirnya aib itu tersebar. Dan bagi si pelaku, pasti malu yang tak terkira harus mereka tanggung. Juga bagi keluarganya, itu semua menjadi aib yang memalukan, menghancurkan martabat keluarga, dan meluluhlantakkan segala kebanggaan. Ironisnya, pelakunya kebanyakan adalah sepasang kekasih yang masih pelajar atau mahasiswa. Lebih ironis lagi, mereka melakukannya atas nama CINTA !
Pertanyaannya: apakah semua itu akan dibiarkan saja? Atau biarlah jadi bahan pemberitaan belaka?
Nama cinta bukanlah untuk sesuatu yang nista. Cinta adalah anugerah Yang Kuasa yang harus kita jaga kesuciannya. Beda cinta dan nafsu? Jika kita mencintai kekasih kita, maka dengan cinta itulah kita menjaganya, bukan menodainya. Cinta selalunya suci dan mulia bila ia dimiliki oleh seorang “pecinta sejati”. Banyak kisah cinta yang menjadi legenda. Tajmahal yang indah di negeri India tercipta karena cinta. Rabiah Al Adawiyah menjadi legenda sufi wanita karena cintanya pada Sang Pencipta.
Pasangan legenda Rama–Shinta, Romeo–Juliet, Kais–Laila, menjadi kisah sepanjang masa karena cinta mereka. Tidak ada kisah melegenda tentang nafsu yang tak terkendali dalam hubungan dua insan lain jenis tanpa ikatan pernikahan. Adanya hanyalah skandal, perselingkuhan, perzinaan, dan nama lain sejenis yang amoral.
Jadi, jangan katakan ‘cinta’ jika kita tidak bisa memaknainya dengan makna yang sebenarnya. Jangan samakan cinta dengan nafsu hanya karena kita kurang kendali diri. Jangan mengkambinghitamkan cinta sebagai sarana pelampiasan nafsu. Dan yang lebih penting lagi, pergaulan bebas tak akan terjadi bila muda-mudi kita bisa memaknai cinta dengan sebenarnya dan memegang teguh ajaran agama dengan istiqomah (konsisten) sampai tiba masanya gerbang pernikahan terbuka.

Selasa, 20 Januari 2015

PENYIMPANGAN SEKS PADA REMAJA


Kita telah ketahui bahwa kebebasan bergaul remaja memang diperlukanagar mereka tidak kuper yang biasanya jadi anak mama. "Banyak teman makabanyak pengetahuan". Namun tidak semua teman kita sejalan dengan apa yangkita inginkan. Mungkin mereka suka hura-hura, suka dengan yang berbaupornografi dan tentu saja ada yang bersikap terpuji. Oleh karena itu memilihteman itu penting, apalagi bagi mereka yang mudah terbawa arus dan kurang bisamenjaga diri agar kita tidak terjerumus ke pergaulan bebas yang menyesatkan.Masa remaja merupakan suatu masa yang menjadi bagian dari kehidupanmanusia yang di dalamnya penuh dengan dinamika. Dinamika kehidupan remajaini akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan diri remaja itu sendiri. Masaremaja dapat dicirikan dengan banyaknya rasa ingin tahu pada diri seseorangdalam berbagai hal, tidak terkecuali bidang seks.Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, organ reproduksipun mengalami perkembangan dan pada akhirnya akan mengalami kematangan.Kematangan organ reproduksi dan perkembangan psikologis remaja yang mulaimenyukai lawan jenisnya serta arus media informasi baik elektronik maupun nonelektronik akan sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual individu remaja tersebut. Salah satu masalah yang sering timbul pada remaja terkait dengan masaawal kematangan organ reproduksi pada remaja adalah masalah kehamilan yangterjadi pada remaja diluar pernikahan. Apalagi apabila Kehamilan tersebut terjadipada usia sekolah. Siswi yang mengalami kehamilan biasanya mendapatkanrespon dari dua pihak. Pertama yaitu dari pihak sekolah, biasanya jika terjadikehamilan pada siswi, maka yang sampai saat ini terjadi adalah sekolahmeresponya dengan sangat buruk dan berujung dengan dikeluarkannya siswitersebut dari sekolah. Kedua yaitu dari lingkungan di mana siswi tersebut tinggal,lingkungan akan cenderung mencemooh dan mengucilkan siswi tersebut. Haltersebut terjadi jika karena masih kuatnya nilai norma kehidupan masyarakat kita.Kehamilan remaja adalah isu yang saat ini mendapat perhatian pemerintah, karenamasalah kehamilan remaja tidak hanya membebani remaja sebagai individu danbayi mereka, namun juga mempengaruhi secara luas pada seluruh strata di
masyarakat dan juga membebani sumber-sumber kesejahteraan, namun alasan-alasannya tidak sepenuhnya dimengerti. Beberapa sebab kehamilan termasuk rendahnya pengetahuan tentang keluarga berencana, perbedaan budaya yangmenempatkan harga diri remaja di lingkungannya, perasaan remaja akanketidakamanan atau impulsifisitas, ketergantungan kebutuhan dan keinginan yangkuat untuk mendapatkan kebebasan. Selain masalah kehamilan pada remajamasalah yang juga sangat menggelisahkan berbagai kalangan dan juga banyak terjadi pada masa remaja adalah banyaknya remaja yang mengidap HIV/AIDS.

Usia Pubertas
Remaja yang mengalami usia puber dini mempunyai peluang berperilakuseksual berisiko berat 4,65 kali dibanding responden dengan usia pubertas normal(95%CI=1,99-10,85). Dari penelitian (Affandi, 1991) dinyatakan terjadipercepatan masa pubertas bagi perempuan. Sekarang pada usia 12 tahun ataukurang telah terjadi pubertas pada perempuan. Hasil penelitian ini sejalan denganhasil analisa WHO (2004) bahwa pubertas dini merupakan faktor risiko perilakuseksual. Pubertas sebagai tanda awal keremajaan tidak lagi valid sebagai patokanpengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada 15-18 tahunkini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Menurunnya usiakematangan ini disebabkan oleh membaiknya gizi sejak masa anak-anak danketerpaparan remaja pada media informasi melalui media elektronik dan cetak.

Pola Asuh Orang Tua
Umumnya responden diasuh oleh orang tuanya dalam 3 tahun terakhir(94,6%). Sekitar 92,6% orang tua tahu kapan anaknya pulang dan 84,3% tahu apayang dikerjakan anaknya di rumah. Sebagian besar responden langsung pulang kerumah seusai sekolah (67,4%). Responden yang tidak langsung pulang ke rumahbiasanya karena pergi les (42,2%), pergi ke rumah teman (31%), jalan-jalan kepasar atau pusat perbelanjaan (20%) dan pergi dengan pacarnya (6%).

Pola asuh demokratis diletakkan sebagai pola asuh, di antara pola asuhpermisif dan pola asuh otoriter. Untuk interpretasinya dilihat kecendrungan dariresponden pada salah satu pola asuh orang tuanya. Responden dengan pola asuhpermisif mempunyai peluang 600,92 kali berperilaku seksual berisiko beratdibandingkan demokratis dan otoriter (95%CI=131,9-2736,8). Berdasarkananalisis multivariat pola asuh merupakan faktor yang paling berhubungan denganperilaku seksual setelah dikontrol oleh variabel lain.Penelitian yang dilakukan Prastana tahun 2005 dan analisa WHO padaberbagai literatur kesehatan reproduksi dari seluruh dunia yang menyatakanbahwa pola asuh adalah merupakan faktor risiko perilaku seksual risiko berat.Berbagai interaksi antara remaja dengan orang tua menunda bahkan mengurangiPerilaku hubungan seksual pada remaja karena tidak adanya pengawasandari orang tua akan mempercepat remaja melakukan hubungan seksual. MenurutMesche (1998) remaja yang diawasi oleh orang tuanya, remaja dengan pola asuhotoriter, remaja yang berasal dari keluarga yang konservatif dan memegang kuattradisi dan remaja mempunyai hubungan akrab dengan orang tuanya akanmenunda umur pertama melakukan hubungan seksual.Pengawasan orang tua merupakan faktor penting yang mempengaruhiperilaku seksual remaja. Pada remaja yang diawasi orang tuanya akan menundabahkan menghindari hubungan seksual sedangkan pada remaja tanpa pengawasanorang tua akan melakukan hubungan seksual pertama pada usia lebih dini. DariStudi Kesehatan Remaja Nasional Amerika Serikat yang dilakukan Esther Wilderdari Lehman College di New York dan Toni Terling Watt dari Southwest TexasState University (2006) menyebutkan lebih dari 50 persen remaja yang orangtuanya perokok, ditemukan sudah memiliki pengalaman seksual sejak usia 15tahun. Remaja yang orang tuanya terlibat dalam perilaku berbahaya untuk kesehatan seperti merokok, umumnya memiliki perilaku seksual yang sangat aktif sejak usia sangat muda. Selain meniru perilaku merokok orang tua mereka, anak-anak ini juga minum alkohol, berhubungan seks, menggunakan narkotika atauapapun yang biasa digunakan kawan-kawan sebayanya. Selain itu mereka jugalebih mudah terjerumus dalam tindak kejahatan.

Status Perkawinan Orang Tua
Responden dengan struktur keluarga tidak lengkap mempunyai peluang 3,75kali untuk berperilaku seksual berisiko berat dibanding struktur keluarga lengkap(95%CI=1,71-6,38). Penelitian Prastana tahun 2005 pada remaja Puertorico.Secara teoritis keutuhan keluarga dapat berpengaruh terhadap perilaku remaja.Ayah akan menjadi panutan bagi remaja laki-laki dan ibu menjadi panutan bagiremaja perempuan. Perilaku orang tua merupakan contoh bagi anaknya, umumnyaremaja bermasalah datang dari keluarga yang tidak utuh.
Pengetahuan Tentang Kesehatan Seksual

Remaja dengan pengetahuan relatif rendah mempunyai peluang 11,90 kaliberperilaku seksual berisiko berat dibandingkan pengetahuan relatif tinggi(95%CI=4,56- 28,61). Pengetahuan remaja tentang kesehatan seksual masihrendah, umumnya yang menjawab benar dibawah 50%, hanya mengenai PMS,HIV-AIDS diatas 50%. Hal ini sejalan dengan penelitian Kitting dan Tanjung,serta hasil Survai Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia tahun 2002-2003.Rendahnya pengetahuan pada remaja disebabkan kurangnya informasi yangditerima remaja. Remaja lebih banyak menerima informasi dari media elektronik seperti televisi. Di televisi informasi sebagian besar informasi hanya sebatasmengenai PMS dan HIV-AIDS sedangkan informasi kesehatan reproduksi danseksual masih jarang. Adanya anggapan bahwa membicarakan tentang kesehatanseksual adalah hal yang memalukan dan tabu bagi keluarga dan masyarakatmembuat remaja yang haus informasi berusaha sendiri mencari informasi.Terkadang informasi yang di dapat malah menyesatkan dan setengah-setengah.Menurut Surono (1997) pengetahuan yang setengah-setengah justru lebihberbahaya ketimbang tidak tahu sama sekali, tetapi ketidak tahuan jugamembahayakan. Pengetahuan seksual yang hanya setengah-setengah tidak hanyamendorong remaja untuk mencoba-coba, tapi juga bisa menimbulkan salahpersepsi.



KESIMPULAN

Kekeliruan remaja yang masuk ke dunia seks bebas (free sex) bukansepenuhnya berasal dari diri mereka sendiri, tetapi iklim yang mendukungmenyebabkan remaja banyak bertindak di luar batas dan didukungtoleransi yang longgar dari masyarakat terhadap perilaku yang melanggarmoral dan kebebasan teknologi informasi yang semakin tidak terbendung.
Lingkungan sosial mempunyai peranan besar terhadap perkembanganremaja.
Kehadiran teman dan keterlibatannya di dalam suatu kelompok membawapengaruh tertentu, baik dalam arti positif maupun dalam arti negatif.

Free sex berpotensi besar terhadap virus HIV/AIDS.

Kurangnya informasi yang benar mengenai perilaku seks yang aman danupaya pencegahan yang bisa dilakukan oleh remaja dan kaum muda.Kurangnya informasi ini disebabkan minimalnya
nilai-nilai agama,budaya, moralitas dan lain-lain, sehingga remaja seringkali tidak memperoleh informasi maupun pelayanan kesehatan reproduksi yangsesungguhnya dapat membantu remaja terlindung dari berbagai resikotermasuk penularan HIV/AIDS. 

SARAN

1.Perlu diadakannya upaya pencegahan melalui konseling HIV/AIDS pratest dan post test.
2.Penanaman nilai-nilai agama, budaya dan moralitas pada remaja.
 Peran orang tua, lingkungan dan teman dalam pencegahan free sex.
 Mengadakan seminar untuk remaja dan orang tua tentang kesehatanreproduksi.
 Perlu adanya perhatian orang tua terhadap anak-anaknya.6.
 Perlu adanya Informasi dan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi danseksualitas.
 Membatasi pengaksesan hal-hal yang mengarah dan berbau pornografipada media cetak dan elektronik.


By  .Rey

Senin, 12 Januari 2015

Simple is Happy



Gue percaya banget sama kalimat yang jadi judul di posting kali ini. Happy is simple. Ini bisa terjadi kalo syarat utamanya terpenuhi: Bersyukur. Bahagia itu sendiri menurut gue nggak ada tolak ukurnya. Cantik, kaya, pinter, belum tentu bahagia. Ajaibnya, banyak orang jelek, bego, kere yang bisa tertawa lepas karena semua kekurangan itu. Ya kan? Hayo, ngaku yang merasa masuk kategori ke dua itu...

Haha...sejujurnya gue sendiri merasa bagian dari kelompok ke dua itu sih. Gue seriiiing banget ngetawain begonya hari-hari yang gue jalanin. Biasanya hal kaya gini cuma terjadi sama sahabat dan pacar doang. Paling sering jadi zonk ya kalo sama (MEREKA), geng sejiwa gue. Sama dia juga sering zonk. Sama yang lain? Yaaah..ini lagi... nggak ada cerita kencan yang nggak zon

Tapi asli deh, gue udah sering banget ngalamin yang namanya bahagia itu sederhana. Gue pernah pergi ama temen gue, doi tajir abis, kita jalan-jalan naik mobil kece, dia juga orangnya pinter dan wawasannya luas. Ceritanya siang itu kita pergi ke mall, berdua aja. Did I feel happy? No. Meskipun naik mobil kece, ditraktir jalan-jalan, gue tetep ngerasa nggak klik, nggak klop, nggak nyaman.

Gue juga pernah pergi ama (seseorang) keliling kupang, kita jalan kaki panas-panasan, gembel-gembelan, tapi berkesan banget. Bahagia banget ngejalaninnya. ada cerita tuh, yang ban motornya meledak, padahal kita mau berangkat party, ujan deres, malem, nggak ada tukang tambal ban, alhasil gue ama teman, juga bengong aja. Ini momen yang langka banget, dan sangat berkesan. Sepanjang jalan gue cuma ngetawain betapa sialnya kita malem itu.

Mungkin kita sering mengutuk kaum alay yang nampil di tv buat nari-nari ala ngejemur baju di pagi hari. Well, kita-kita yang menertawakan mereka belum tentu lebih bahagia dari mereka loh. Mungkin kita sering iri sama hidup orang lain, cek FB, cek Instagram, cek Path, isinya orang pamer semua kan? Terus kita beranggapan bahwa mereka lebih bahagia dengan semua itu. Percayalah itu semua palsu. Bersyukur aja ama yang kita punya sekarang. Karena pada dasarnya setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, punya solusi dan punya masalah masing-masing.

Ada baiknya sesekali menertawakan kesialan, menertawakan kegagalan, asal jangan ketwa sepanjang waktu sih. Karena dengan melihat sisi lain suatu masalah, kita bisa liat brightside-nya. Dan dengan begitu, harapannya kita bisa bersyukur lebih banyak lagi.

Sabtu, 20 Desember 2014

Cahaya Lili Natal


Kegetiran hidup menyelimuti diriku ketika aku menatap hampa ke layar televisi. Sebuah film hitam putih, “It’s a Wonderful Life” sedang ditayangkan. Film ini adalah salah satu film favoritku sepanjang waktu. Menonton itu hatiku dipenuhi dengan kegembiraan dan gairah. Tapi, kini semua ketidakmustahilan tentang malaikat pelindung dan keajaiban-keajaiban tersebut membuat perasaanku muak.
“Di manakah malaikat pelindung putraku itu berada pada malam hari Natal, ketika roda-roda mobil tersebut menghancurkan tubuhnya,” aku bertanya kepada wajah-wajah riang dalam layar televisi.

Kemudian aku memandang ke atas dan bertanya dalam hati kepada Tuhan tentang permohonan yang aku ajukan berkali-kali di sepanjang tahun lalu. “Apa yang terjadi dengan keajaiban yang kumohonkan lewat doa-doa kepada Tuhan, tentang keajaiban agar putraku senantiasa dikaruniai keselamatan?”
Kedamaian dan kebahagiaan. Aku tidak bisa membayangkan akan pernah merasakan emosi-emosi itu lagi, tidak ketika putraku yang berusia tujuh belas tahun berbaring dalam makamnya yang ditimbuni tanah basah. Sejak kematian Susilo, aku telah berubah dari ibu dan istri yang menarik serta bahagia menjadi bayangan diriku sebelumnya. Rambutku yang sepanjang bahu kini tampak terjurai kusut. Kulitku yang cokelat sehat kini tampak pucat.

Aku tidak bisa meneruskan dengan cara seperti ini. Hidupku terasa hampa, dan aku telah membuat suamiku, Yanto sengsara. Itulah kenapa pada malam ini, malam Hari Natal, tepat satu tahun sesudah Susilo terbunuh, aku berniat menemani putraku di alam kematian.
Bermacam-macam pil yang aku kumpulkan sepanjang minggu telah lebih dari cukup untuk melakukan tugas itu. Aku akan segera tertidur dan ketika aku membuka mataku nanti, aku sudah akan bersama putraku lagi, Susilo.

Air mata mengaburkan pandanganku ketika aku memegang segenggam penuh pil dengan sebelah tangan kiriku, dan segelas air di tangan kananku. Pikiranku melayang pada suamiku yang sedang terbaring di ranjangnya, tertidur lelap. Dia tidak menyangka istrinya berada di ruang duduk untuk bersiap-siap bunuh diri!
Aku sadar suamiku sangat mencintaiku, dan jauh di dalam lubuk kesedihanku, aku pun sangat mencintai dia juga. Kendati demikian, kasih dan sayang kami tidak mampu menghilangkan rasa sakit yang begitu hebat dalam hatiku yang hancur berantakan. Selain itu, dia jauh lebih tabah ketimbang aku. Dia tidak akan begitu terpengaruh seandainya aku mati, karena dia dengan cepat akan menemukan wanita lain. Bahkan dia mungkin akan dapat memulai kehidupan rumah tangga yang baru.

Aku teringat telah bangun sebelum fajar pada Hari Natal tahun lalu, untuk menyelesaikan membuat roti. Dipenuhi rasa keriangan hari libur, aku bersenandung riang mengikuti alunan-alunan lagu yang berkumandang dari radio selagi aku masih bekerja. Aku sedang mengeluarkan kue kentang dari oven ketika anakku dan suamiku menyelonong ke dalam dapur sekitar pukul Sembilan. Mereka berdua telah bekerja sampai larut, menyiapkan pohon Natal pada malam sebelumnya. Aku pun beberapa malam sudah membantu mereka.
“Selamat Hari Natal, sang penidur!” aku berseru. “Kukira kalian berdua akan tetap molor di sepanjang hari.”
“Selamat pagi sayang,” suamiku menjawab dengan nada masih mengantuk, mengendus udara dekat pipiku. Dia langsung menjangkau poci kopi dan menuang secangkir untuk dirinya sendiri.

Kendati kami sudah menikah selama hampir dua puluh tahun, pandangan atas suamiku masih tetap membuat hatiku bergairah. Beberapa kerutan terlihat di sekitar kedua matanya dan uban tipis mulai menghiasi keningnya, namun ia tetap pria paling tampan yang pernah aku lihat.
Susilo adalah duplikat muda ayahnya. Aku nyaris tak percaya waktu telah berlalu sedemikian cepat. Tampaknya dia seperti sedang menghabiskan makan di kursinya yang tinggi di depanku – seminggu yang lalu. Kini, tubuhnya lebih tinggi ketimbang aku dan ayahnya.
“Selamat pagi, Mam,” Susilo menggumam, kemudian melayangkan pandangan ke ayahnya.
“Bagaimana, Mama bersikap riang pada jam-jam seperti ini?”
Suamiku mengangkat bahu dan sambil menenggak kopinya lagi. “Kau tahu bagaimana Mamamu pada hari-hari libur. Ia seperti peri yang menjelma. Bahkan kopinya sendiri beraroma Natal,” dia akan menjawab, mengomentari serpihan kayu manis dan panili yang aku campurkan ke dalam adukan kopi.
“Aku berani taruhan, hanya aku yang punya Mama di seluruh dunia, yang bisa membuat kopi Natal,” Susilo berkata, tertawa-tawa. Aku memukul-mukulkan kedua tangan ke paha, pura-pura merasa dihina.
“Kalian tahu, campuran itu akan menambah selera makan kalian.”
“Yah, tapi kue-kue serabi yang besar mungkin akan lebih menambah selera kami, Mama,” Susilo mengedip-ngedipkan mata pada ayahnya.
“Kedengarannya memang cocok dengan kemauanku. Bagaimana tentang itu Ma?” Yanto bertanya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Maaf, tuan-tuan, aku sedang kehabisan bahan-bahannya. Kalian harus menyiapkannya dulu.”
“Tidak bisa Mama, kami tidak mengharapkan jawaban seperti itu,” Susilo bersikeras.
“Aku akan pergi ke pasar. Mama harus mulai menyiapkan kue itu.” Susilo condong ke depan sambil mencium pipiku. “Itulah kenapa Mama selalu menjadi wanita kesayanganku,” dia berkata, mengambil kunci mobilku.
Aku tertawa dan mengingatkannya untuk berhati-hati. Jika aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, aku akan mencekal tangan dan mendekapnya erat-erat tak akan pernah membiarkan pergi.
Yanto duduk di dapur dan menemani selagi aku mengaduk-aduk adonan serabi. Kami membicarakan kejutan besar yang akan kami berikan pada putra kami pada hari berikutnya. Kami rasanya tidak sabar menunggu untuk melihat ekspresi wajahnya, ketika dia melihat Honda Tiger yang baru kami beli buat dia.
“Apakah kau benar-benar yakin dia akan menyukai itu?” aku bertanya.
“Itu motor bekas, bukan?” Yanto minum kopi lagi.
“Biarpun bekas, motor itu gagah, mulus dan kuat. Dia akan begitu bangga.”
“Kau tak merasa sangat memanjakannya bukan?” aku bertanya.
Yanto dan aku telah mengharapkan sebuah rumah yang dipenuhi anak-anak, namun Tuhan hanya menganugerahi seorang putra, Susilo. Dia senantiasa menunjukkan sikap sebagai anak yang begitu baik.
“Yah, dia akan memasuki Universitas tahun depan, dan aku ingin Natal ini menjadi waktu yang sangat khusus,” Yanto menjelaskan.
Pikiran tentang putra tunggalku pergi ke kota lain untuk berkuliah membuat air mata memenuhi pandanganku.
“Aku tak ingin anak kita pergi jauh untuk menuntut ilmu,” aku menggumam. Kutaruh kue serabi di atas meja dan kujatuhkan tubuhku ke dalam kedua tangan suamiku yang terentang.
“Ngomong-ngomong tentang anak kita, kemanakah dia pergi?” Yanto bertanya sambil memandang arlojinya. “Seharusnya dia sudah pulang sekarang.”
“Mungkin singgah ke rumah salah seorang temannya, dan tak ingat waktu,” aku menjawab.
Setengah jam telah berlalu, baik Yanto maupun aku mulai merasa gelisah. Bukan sikap Susilo membuat kami menunggu-nunggu dia seperti ini, khususnya dengan kue-kue serabi di atas wajan. Mendadak telepon bordering dan Yanto menjangkau gagangnya.
“Itu mungkin dia,” aku berkata, mendesahkan perasaan lega.
Petunjuk waktu oven berbunyi, dan aku segera mengeluarkan kue-kue serabiku. Aku memutar tubuh ketika mendengar Yanto menjatuhkan gagang telepon ke atas lantai. Wajahnya nampak tegang.
“Ada apa?” aku bertanya, rasa panik mulai memenuhi dadaku.
“Yanto, apakah itu? Siapakah yang menelpon?”
“Susilo tertabrak,” dia menjawab seolah-olah tak percaya apa yang sedang dikatakannya.
Jantungku terasa membeku dalam dada.
“Oh, tidak! Itu mungkin hanya kekeliruan saja. Dia sedang pergi ke pasar.”
“Yang menelepon itu Pak Polisi. Mereka sedang membawa Susilo ke RSCM,” dia menjelaskan.
Perasaan shock yang mula-mula melanda diri kami berubah menjadi ketakutan yang sangat mencekam, ketika Yanto melanggar segala peraturan lalu-lintas, meluncur sekencang-kencangnya melintasi kota menuju rumah sakit pusat. Namun itu masih belum cukup cepat bagiku. Dengan diam-diam, aku berdoa agar Susilo tidak terjadi apa-apa. Aku menatap Yanto untuk memperoleh kepastian, namun dia pun sama-sama takutnya seperti aku.
Ketika kami akhirnya sampai di rumah sakit, aku meloncat ke luar sebelum Yanto sempat mematikan mesin mobilnya. Kami saling bergandengan tangan erat-erat tatkala kami melangkah cepat melintasi lapangan parkir.
“Kami sedang mencari putra kami, Susilo Budiyanto,” dengan napas tertahan aku bertanya kepada petugas penerima di depan mejanya.
Ia menghindari pertanyaanku, memberikan beberapa lembar formulir ke tanganku, dan memimpin kami ke ruang tunggu. Ia bilang dokter akan berbicara dengan kami sebentar lagi.
“Apakah yang terjadi?” Yanto bertanya kepadanya.
“Apakah lukanya cukup parah.”
“Saya mohon maaf. Anda harus menunggu dan berbicara langsung dengan dokter yang menanganinya,” ia menjawab ramah namun tegas.
Bau disinfektan dan penyakit melanda lubang hidungku ketika kami duduk di kursi ruang tunggu yang berlapis plastik tebal. Seseorang telah mencoba menghidupkan suasana ruangan meja yang dihiasi pohon Natal, namun bau antiseptik masih tercium.
Yanto memisah lembar-lembar formulir, memberiku selembar daftar pertanyaan medis, sementara dia mengisi formulir-formulir asuransi. Aku berkonsentrasi menjawab halaman-halaman pertanyaan yang begitu banyak, ingin pura-pura tidak memperhatikan aktivitas yang berlangsung di sekitar ruang perawatan gawat-darurat.
Aku mencoba melihat sendiri apa yang dilakukan para dokter, namun Yanto menahanku.
“Biarkan mereka melakukan tugasnya,” dia membujuk, merangkulkan lengan ke bahuku yang gemetar.
Tak pernah selama hidup aku merasa demikian putus asa. Bahkan seandainya aku diijinkan melihat Susilo, aku sadar tak ada yang bisa aku lakukan untuk menolong dia. Ketika dia masih anak-anak, aku dapat menghilangkan rasa sakitnya dengan ciuman atau sepotong kue. Jika sekarang hanyalah seperti itu… aku akan hanya bisa menunggu dan berdoa.
“Tuan dan Nyonya Budiyanto?” seorang polisi bertanya ketika dia dan rekannya melangkah ke dalam ruang tunggu. “Saya Serda Purnomo, saya petugas pertama yang tiba di TKP.” Ekpresi suara pada wajah Serda Purnomo membuat perutku seakan terikat kencang. Baik dia maupun rekannya saling menghindari pandangan kami, ketika mereka menjelaskan kepada kami apa yang telah menimpa diri Susilo.
Bayangan putraku terbaring di lantai yang dingin, berlumuran darah, melanda pikiranku. Dia pasti sangat ketakutan. Aku berharap, akulah yang tertabrak bukan dia, dan akan dengan senang hati akan menggantikan tempatnya sekarang begitu dia berjuang keras mempertahankan usia mudanya.
“Kami telah menangkap penabrak itu sekitar tiga blok dari toko tersebut,” polisi yang lain menambahkan. Pada point ini, aku tidak ambil pusing polisi berhasil atau tidak menangkap penabrak anaknya itu. Perhatianku hanya terpusat pada keselamatan putraku.
“Anda melihat Susilo sebelum mereka membawanya ke rumah sakit,” aku bertanya, suaraku sangat parau hingga nyaris hanya terdengar sebagai bisikan.
“Bagaimana keadaan, Anda?”
Kedua polisi itu saling bertukar pandangan sedih, dan rasanya berabad-abad sebelum Serda Purnomo menjawab.
“Jantung putra Anda berhenti berdenyut dua kali, dan dia harus disadarkan dua kali sebelum mereka memasukkannya ke dalam ambulans. Dia masih hidup tapi tampaknya…”
Sedu-sedan mengguncang tubuhku ketika aku menjatuhkan diri ke dalam pelukan Yanto yang kuat. Putraku telah meninggal, dan aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku bahkan tidak boleh mendekati dia, memegang tangannya, dan membiarkan dia tahu mamanya sangat mencintainya.
Satu jam telah lewat, sebelum dokter muncul keluar untuk berbicara dengan kami. Wajahnya tampak letih dan sedih, bahunya merosot ke depan dalam sikap pasrah. Yanto dan aku bergegas mendekati, ingin mendengar tentang keadaan putra kami.
“Saya mohon maaf, Tuan dan Nyonya Budiyanto. Susilo tidak mampu bertahan. Kami sudah berusaha semampu kami, namun dia terlampau banyak mengeluarkan darah.”
“Tidak… Tidak… tidak…” aku berbisik, menggeleng-gelengkan kepala dalam ketidakpercayaan. Aku telah berdoa begitu khusyuk. Aku sadar Tuhan tidak akan membiarkan putra kesayanganku mati, tidak pada Hari Natal.

Wajah tampan Yanto tampak lebih tua dua puluh tahun tatkala dia mendengar berita itu. “Saya yakin Anda telah berusaha semampu Dokter,” dia menggumam.
Ketabahan tipis yang menahan kewarasan pikiranku terasa sirna. Dokter menyatakan keliru atau telah berbohong. Putraku, yang sangat sehat dan penuh gairah hidup tadi pagi, kini telah tiada. Aku tahu Tuhan tidak membiarkannya hidup dua kali hanya untuk kemudian membiarkannya mati. Ini pasti hanya sejenis gurauan yang tidak lucu, kejam, pikiranku yang tidak logis mengatakan. Para remaja tidak akan mati di hadapan orangtua mereka. Aku akan menyelidiki dasar kekacauan ini.
“Jangan percaya dia, Yanto. Dia bohong!” aku berteriak histeris.
“Aku ingin melihat putraku. Sekarang juga!”
“Saya kira itu bukan gagasan baik, Nyonya Budyanto,” dokter menanggapi. Kemudian dia memandang Yanto.
“Saya kira akan lebih baik jika saya memberi obat penenang kepada istri Anda.”
“Saya tak ingin obat penenang!” aku berseru.
“Saya ingin melihat anak saya, dan tak ada yang bisa untuk menghalangi saya.” Aku berjalan ke arah ruang pemeriksaan. Aku harus menghentikan kekacauan ini. Susilo sudah mati. Kami telah membelikan dia sepeda motor sebagai hadiah Natal.
Ketika aku mendorong pintu ruang pemeriksaan, seorang perawat sedang mematikan mesin-mesin dan melepas kaitan slang-slang dari tubuh yang tidak bergerak di atas usungan. “Ya Tuhan, pastikan mereka telah salah bicara,” aku berbisik ketika aku melangkah perlahan ke arah usungan. Yanto memelukku dari belakang.

“Mama, kuminta jangan kau lakukan ini,” dia berkata serak.
Aku melepaskan diri dari dia dan melangkah ke usungan. Aku memandang ke bawah, dan impianku yang terburuk menjadi kenyataan. Di bawah darah, luka-luka memar, dan slang-slang, wajah Susilo yang tak bernyawa membalas pandanganku. Tanpa ditahan pelukan Yanto yang kuat, tubuhku pasti sudah roboh, pingsan. Semua itu benar! Putra kesayanganku, yang hidup penuh gairah tadi pagi, telah mati.
Aku membungkuk dan memegang tangan Susilo. Aku tak tahu sudah berapa lama aku berdiri di sana, memeluknya, memandangi dia. Aku hanya ingat, tidak akan membiarkannya pergi, sampai kehangatan tubuhnya perlahan-lahan hilang.
“Semua ini kesalahanku,” aku bilang kepada Yanto dalam perjalanan pulang.
“Kau ngomong apa?”
“Aku ibu rumah tangga. Adalah tugasku untuk menyediakan bahan-bahan makanan,” aku menangis terisak-isak.
“Seharusnya aku sendiri yang membeli bahan-bahan itu. Dengan begitu Susilo masih tetap hidup.”
Yanto menghentikan mobil di pinggir jalan. Airmata meleleh turun ke wajahnya ketika dia menarik tubuhku. “Mama, kau istri yang baik, dan kau ibu yang mengagumkan bagi putra kita. Semua ini bukan kesalahanmu. Itu hanya telah terjadi, sudah nasib kita. Dan aku sudah tahu kenapa.”
Penderitaan pada upacara pemakaman dan minggu-minggu yang mengikuti berlalu dalam kesedihan yang sangat menyiksa. Yanto memberitahu bahwa kedua orangtuaku datang ke kota untuk menghadiri upacara pemakaman cucu mereka, namun aku nyaris tak ingat apakah aku telah berbicara dengan mereka.
Tanpa suara tertawa Susilo, rumah kami terasa dingin, sunyi dan hampa. Aku tetap mengharapkan dia untuk pulang ke rumah dari sekolah, melempar buku-bukunya ke lantai, dan melangkah langsung ke kulkas. Kadang-kadang aku masuk ke dalam kamarnya dan membenamkan wajahku ke bantal, di mana aroma tubuhnya masih tercium. Aku memandang sekeliling dan teringat waktu-waktu memarahi dia untuk membersihkan kamarnya yang berantakan seperti kandang ayam, atau berseru kepadanya karena minum susu langsung dari dusnya. Semua itu tampaknya benar-benar tidak penting lagi sekarang.
Suamiku berusaha keras mengajak aku melupakan kehilangan kami yang begitu berat bersama-sama, namun aku selalu menolak. Aku seakan-akan berkubang sendirian dalam perasaan berdosa dan kesedihan. Aku bahkan tidak keluar dari “sangkarku” untuk menghadiri sidang pengadilan orang yang menabrak Susilo.
Para sahabat dan sanak-saudaraku menyambut gembira sidang yang mengadili pemuda tersebut sebagai pria dewasa, dan menjatuhi dia hukuman penjara yang sangat lama. Itu tidak menjadi soal bagiku. Betapa pun lamanya hukuman, hal itu tak akan bisa menghidupkan kembali anakku. Yanto akhirnya menjual Honda Tiger yang tak pernah sempat dikendarai Susilo. Tak seorang pun dari kami mampu mamandang motor itu. Memandang itu hanya akan membuat kami memikirkan apa yang dapat dan seharusnya terjadi.

Yanto mencoba sekuat tenaga untuk menghibur aku. Dia membawaku keluar untuk bersantap malam, menonton bioskop, bepergian jauh dan berwisata. Kami bahkan mulai bermain cinta lagi. Kendati aku sangat mencintai Yanto, aku harus jelas bahwa aku hanya melakukan gerakan kehidupan saja. Persahabatan dengan teman-teman lama menghilang, ketika mereka menghentikan kunjungannya. Aku merasa kaku untuk melayani mereka atau melakukan yang lain. Dalam hati, aku tak bisa meneruskan sikap seperti ini. Lebih baik aku mati ketimbang hidup dengan penderitaan seperti ini!
“Selamat Hari natal, sayang,” aku berbisik ke potret Susilo.
“Mama segera bertemu kamu.” Dengan memejamkan kedua mata aku mengangkat genggaman pil ke mulutku. Aku sadar apa yang harus kulakukan, dan aku telah siap mati.
“Jangan lakukan itu, Mama!” Sebuah suara yang sangat aku kenal menjerit ke telingaku. Itu adalah suara yang aku begitu ingin mendengarnya selama satu tahun ini.
“Susilo?” aku berbisik, menjatuhkan pil-pil ke atas lantai.

Dengan putus asa aku memandang sekeliling kamar, mencari-cari anakku. Tapi, juga tak ketemukan dari mana asal suara itu datang, aku pun terduduk lemas di atas sofa sambil menangis.
Tiba-tiba Yanto bergegas masuk ke dalam kamar. Keringat membasahi piyamanya, dan napasnya terengah-engah. Dia menatap ke bawah, ke pil-pil yang berserakan di lantai, kemudian ke wajahku.
“Berdiri,” dia mendengus, menarik tubuhku dari sofa. Kemarahan memudarkan wajahnya, dan aku bisa melihat urat-urat darah berdenyut di lehernya. Gemetar karena mendengar suara Susilo dan kemarahan Yanto, aku mencoba menerangkan. “Aku belum menelannya,” gumamku.
Yanto tak mau mendengarkan. Dia mengenakan jaketnya dan melemparkan jaketku ke bahuku.
“Aku akan membawamu ke rumah sakit,” dia berkata, tegas. Kembali, aku mencoba menjelaskan kepada Yanto bahwa aku tak punya kesempatan menelan pil-pil itu. Tak ada alasan membawaku ke rumah sakit di tengah malam buta.

“Aku tak boleh bertindak ceroboh,” Yanto menjawab.
“Aku sudah kehilangan putraku. Yah, aku tak ingin kehilangan kau juga.”
Di sepanjang perjalanan ke rumah sakit, aku mencoba membuat Yanto memutar mobil dan membawaku kembali pulang ke rumah. Aku menjelaskan kepadanya bahwa tindakan itu benar-benar tidak berguna. Dia menatap wajahku lekat-lekat, matanya dipenuhi perasaan cinta yang tulus dan kasih sayang.
“Tidakkah kau mengerti, bahwa dirimu adalah segalanya bagiku?” dia bertanya lirih.
Tanpa mengacuhkan protesku, Yanto meminta dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh pada diriku. Dia memberikan kepada dokter segenggam pil yang aku kumpulkan, dan menerangkan kepadanya bahwa aku mungkin telah menelannya beberapa butir. Aku tetap berusaha meyakinkan dokter, aku belum menelan sebutir pil pun. Namun, dia tetap mendesak untuk memeriksaku. Dia kemudian membuang-buang waktuku dengan melakukan segala jenis tes yang seharusnya tidak diperlukan.
“Baiklah, Nyonya Budiyanto, beruntung Anda belum menelan pil-pil itu,” dia berkata, sesudah menyelesaikan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
“Jika sebaiknya Anda akan membunuh diri Anda sendiri dan bayi Anda.”
“Bayi?” aku bertanya. Kupikir aku telah salah dengar. Bagaimanapun juga, umurku sudah empat puluh tiga tahun. Aku tak mungkin bisa hamil lagi.
“Anda sedang hamil dua bulan,” dokter menjelaskan apa adanya.
“Demi keselamatan bayi Anda, maka Anda harus menjaga diri Anda secara lebih baik lagi.”
“Apa istri saya akan pulih kesehatannya dokter?” dia bertanya kepada ahli medis itu.
“Pikirannya agak tertekan, namun selain itu tubuhnya sehat wal’afiat,” dokter menjelaskan kepadanya.
“Adakah sesuatu yang bisa saya lakukan untuk dirinya?” Yanto bertanya lagi, nada suaranya dipenuhi keprihatinan. Aku ingin menunggu waktu yang untuk menjelaskan kepadanya tentang kehamilanku, namun aku merasa tidak mampu menahannya lama-lama.
“Kita akan berbahagia lagi, Pa.”
“Papa?” Yanto mengulangi. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“Dalam waktu sekitar tujuh bulan kau akan menjadi ayah lagi.”
Yanto memelukku dan mengayunkan tubuhku memutar. Aku bergantung pada tubuhnya begitu kami menangis dalam kebahagiaan. Ini merupakan rasa kebahagiaan yang pertama kali kami alami sejak kematian Susilo.
Ketika kami tiba di rumah, aku menuang secangkir kopi untuk Yanto, dan membuat segelas susu bagi diriku sendiri.
“Yanto, apakah yang membuatmu berlari-lari ke ruang duduk malam ini?” aku bertanya. Ekspresi aneh muncul di wajah suamiku.
“Aku tahu kedengarannya aneh, namun aku merasa yakin Susilo mengguncang-guncang tubuhku dan berteriak-teriak untuk membangunkan aku.”
“Tidak, sayang, itu tidak terdengar aneh.”
Lantas aku ceritakan kepadanya tentang teriakan Susilo ketika aku akan menelan pil-pil itu.
“Kupikir aku hanya sedang bermimpi,” Yanto menanggapi. Kutuangkan lagi secangkir kopi buat suamiku dan segelas susu untuk diriku sendiri.
“Mari kita ber-toast untuk keajaiban-keajaiban ini,” Yanto berkata, mengangkat gelasnya.
“Dan untuk malaikat-malaikat pelindung,” aku menimpali.
“Selamat Hari Natal, Susilo.”
Putri kami, Anita, sudah berusia empat bulan sekarang, dan ia menjadi cahaya kehidupan bagi kami. Sesudah malam ketika aku nyaris bunuh diri itu aku segera berkonsultasi dengan psikiater, yang membantu memecahkan problemku yang berkaitan dengan kematian Susilo. Tidak ada hari yang berlalu tanpa perasaan kehilangan atas diri putraku. Namun, kini aku telah mampu mengatasi rasa kesedihan itu.
Ketika aku menunduk memandangi wajah Anita yang mungil, aku tahu Susilo sedang tersenyum manis ke adiknya. Pada suatu hari, ketika ia sudah dewasa nanti aku akan menceritakan kepadanya tentang abangnya dan malam ketika dia menyelamatkan kehidupan kami berdua!

by Dewi fortuna

Senin, 15 September 2014

AKU MENCINTAIMU SEBISA DIRIKU,,

Aku mencintaimu sebisa diriku..
Tanpa haru yang menderu..
Tanpa hati yang mematri..
Tanpa asa yang bersemi..

Aku mencintaimu semampu diriku..
Tanpa kehadiran..Tanpa pujian..Tanpa sentuhan..Tanpa pelukan..

Aku mencintaimu senyaman langkahku..
Tanpa untaian kata cinta..Tanpa hasrat yang menggebu..
Tanpa keberadaan yang berpadu..

Hanya bayangan hatiku dan hatimu yang menyatu..
Karena cinta bukan dosa..
Tapi cinta adalah kejujuran jiwa..
Hingga sampai nanti indah pada waktunya.