Senin, 12 Januari 2015

Simple is Happy



Gue percaya banget sama kalimat yang jadi judul di posting kali ini. Happy is simple. Ini bisa terjadi kalo syarat utamanya terpenuhi: Bersyukur. Bahagia itu sendiri menurut gue nggak ada tolak ukurnya. Cantik, kaya, pinter, belum tentu bahagia. Ajaibnya, banyak orang jelek, bego, kere yang bisa tertawa lepas karena semua kekurangan itu. Ya kan? Hayo, ngaku yang merasa masuk kategori ke dua itu...

Haha...sejujurnya gue sendiri merasa bagian dari kelompok ke dua itu sih. Gue seriiiing banget ngetawain begonya hari-hari yang gue jalanin. Biasanya hal kaya gini cuma terjadi sama sahabat dan pacar doang. Paling sering jadi zonk ya kalo sama (MEREKA), geng sejiwa gue. Sama dia juga sering zonk. Sama yang lain? Yaaah..ini lagi... nggak ada cerita kencan yang nggak zon

Tapi asli deh, gue udah sering banget ngalamin yang namanya bahagia itu sederhana. Gue pernah pergi ama temen gue, doi tajir abis, kita jalan-jalan naik mobil kece, dia juga orangnya pinter dan wawasannya luas. Ceritanya siang itu kita pergi ke mall, berdua aja. Did I feel happy? No. Meskipun naik mobil kece, ditraktir jalan-jalan, gue tetep ngerasa nggak klik, nggak klop, nggak nyaman.

Gue juga pernah pergi ama (seseorang) keliling kupang, kita jalan kaki panas-panasan, gembel-gembelan, tapi berkesan banget. Bahagia banget ngejalaninnya. ada cerita tuh, yang ban motornya meledak, padahal kita mau berangkat party, ujan deres, malem, nggak ada tukang tambal ban, alhasil gue ama teman, juga bengong aja. Ini momen yang langka banget, dan sangat berkesan. Sepanjang jalan gue cuma ngetawain betapa sialnya kita malem itu.

Mungkin kita sering mengutuk kaum alay yang nampil di tv buat nari-nari ala ngejemur baju di pagi hari. Well, kita-kita yang menertawakan mereka belum tentu lebih bahagia dari mereka loh. Mungkin kita sering iri sama hidup orang lain, cek FB, cek Instagram, cek Path, isinya orang pamer semua kan? Terus kita beranggapan bahwa mereka lebih bahagia dengan semua itu. Percayalah itu semua palsu. Bersyukur aja ama yang kita punya sekarang. Karena pada dasarnya setiap orang punya kelebihan dan kekurangan, punya solusi dan punya masalah masing-masing.

Ada baiknya sesekali menertawakan kesialan, menertawakan kegagalan, asal jangan ketwa sepanjang waktu sih. Karena dengan melihat sisi lain suatu masalah, kita bisa liat brightside-nya. Dan dengan begitu, harapannya kita bisa bersyukur lebih banyak lagi.

Sabtu, 20 Desember 2014

Cahaya Lili Natal


Kegetiran hidup menyelimuti diriku ketika aku menatap hampa ke layar televisi. Sebuah film hitam putih, “It’s a Wonderful Life” sedang ditayangkan. Film ini adalah salah satu film favoritku sepanjang waktu. Menonton itu hatiku dipenuhi dengan kegembiraan dan gairah. Tapi, kini semua ketidakmustahilan tentang malaikat pelindung dan keajaiban-keajaiban tersebut membuat perasaanku muak.
“Di manakah malaikat pelindung putraku itu berada pada malam hari Natal, ketika roda-roda mobil tersebut menghancurkan tubuhnya,” aku bertanya kepada wajah-wajah riang dalam layar televisi.

Kemudian aku memandang ke atas dan bertanya dalam hati kepada Tuhan tentang permohonan yang aku ajukan berkali-kali di sepanjang tahun lalu. “Apa yang terjadi dengan keajaiban yang kumohonkan lewat doa-doa kepada Tuhan, tentang keajaiban agar putraku senantiasa dikaruniai keselamatan?”
Kedamaian dan kebahagiaan. Aku tidak bisa membayangkan akan pernah merasakan emosi-emosi itu lagi, tidak ketika putraku yang berusia tujuh belas tahun berbaring dalam makamnya yang ditimbuni tanah basah. Sejak kematian Susilo, aku telah berubah dari ibu dan istri yang menarik serta bahagia menjadi bayangan diriku sebelumnya. Rambutku yang sepanjang bahu kini tampak terjurai kusut. Kulitku yang cokelat sehat kini tampak pucat.

Aku tidak bisa meneruskan dengan cara seperti ini. Hidupku terasa hampa, dan aku telah membuat suamiku, Yanto sengsara. Itulah kenapa pada malam ini, malam Hari Natal, tepat satu tahun sesudah Susilo terbunuh, aku berniat menemani putraku di alam kematian.
Bermacam-macam pil yang aku kumpulkan sepanjang minggu telah lebih dari cukup untuk melakukan tugas itu. Aku akan segera tertidur dan ketika aku membuka mataku nanti, aku sudah akan bersama putraku lagi, Susilo.

Air mata mengaburkan pandanganku ketika aku memegang segenggam penuh pil dengan sebelah tangan kiriku, dan segelas air di tangan kananku. Pikiranku melayang pada suamiku yang sedang terbaring di ranjangnya, tertidur lelap. Dia tidak menyangka istrinya berada di ruang duduk untuk bersiap-siap bunuh diri!
Aku sadar suamiku sangat mencintaiku, dan jauh di dalam lubuk kesedihanku, aku pun sangat mencintai dia juga. Kendati demikian, kasih dan sayang kami tidak mampu menghilangkan rasa sakit yang begitu hebat dalam hatiku yang hancur berantakan. Selain itu, dia jauh lebih tabah ketimbang aku. Dia tidak akan begitu terpengaruh seandainya aku mati, karena dia dengan cepat akan menemukan wanita lain. Bahkan dia mungkin akan dapat memulai kehidupan rumah tangga yang baru.

Aku teringat telah bangun sebelum fajar pada Hari Natal tahun lalu, untuk menyelesaikan membuat roti. Dipenuhi rasa keriangan hari libur, aku bersenandung riang mengikuti alunan-alunan lagu yang berkumandang dari radio selagi aku masih bekerja. Aku sedang mengeluarkan kue kentang dari oven ketika anakku dan suamiku menyelonong ke dalam dapur sekitar pukul Sembilan. Mereka berdua telah bekerja sampai larut, menyiapkan pohon Natal pada malam sebelumnya. Aku pun beberapa malam sudah membantu mereka.
“Selamat Hari Natal, sang penidur!” aku berseru. “Kukira kalian berdua akan tetap molor di sepanjang hari.”
“Selamat pagi sayang,” suamiku menjawab dengan nada masih mengantuk, mengendus udara dekat pipiku. Dia langsung menjangkau poci kopi dan menuang secangkir untuk dirinya sendiri.

Kendati kami sudah menikah selama hampir dua puluh tahun, pandangan atas suamiku masih tetap membuat hatiku bergairah. Beberapa kerutan terlihat di sekitar kedua matanya dan uban tipis mulai menghiasi keningnya, namun ia tetap pria paling tampan yang pernah aku lihat.
Susilo adalah duplikat muda ayahnya. Aku nyaris tak percaya waktu telah berlalu sedemikian cepat. Tampaknya dia seperti sedang menghabiskan makan di kursinya yang tinggi di depanku – seminggu yang lalu. Kini, tubuhnya lebih tinggi ketimbang aku dan ayahnya.
“Selamat pagi, Mam,” Susilo menggumam, kemudian melayangkan pandangan ke ayahnya.
“Bagaimana, Mama bersikap riang pada jam-jam seperti ini?”
Suamiku mengangkat bahu dan sambil menenggak kopinya lagi. “Kau tahu bagaimana Mamamu pada hari-hari libur. Ia seperti peri yang menjelma. Bahkan kopinya sendiri beraroma Natal,” dia akan menjawab, mengomentari serpihan kayu manis dan panili yang aku campurkan ke dalam adukan kopi.
“Aku berani taruhan, hanya aku yang punya Mama di seluruh dunia, yang bisa membuat kopi Natal,” Susilo berkata, tertawa-tawa. Aku memukul-mukulkan kedua tangan ke paha, pura-pura merasa dihina.
“Kalian tahu, campuran itu akan menambah selera makan kalian.”
“Yah, tapi kue-kue serabi yang besar mungkin akan lebih menambah selera kami, Mama,” Susilo mengedip-ngedipkan mata pada ayahnya.
“Kedengarannya memang cocok dengan kemauanku. Bagaimana tentang itu Ma?” Yanto bertanya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Maaf, tuan-tuan, aku sedang kehabisan bahan-bahannya. Kalian harus menyiapkannya dulu.”
“Tidak bisa Mama, kami tidak mengharapkan jawaban seperti itu,” Susilo bersikeras.
“Aku akan pergi ke pasar. Mama harus mulai menyiapkan kue itu.” Susilo condong ke depan sambil mencium pipiku. “Itulah kenapa Mama selalu menjadi wanita kesayanganku,” dia berkata, mengambil kunci mobilku.
Aku tertawa dan mengingatkannya untuk berhati-hati. Jika aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, aku akan mencekal tangan dan mendekapnya erat-erat tak akan pernah membiarkan pergi.
Yanto duduk di dapur dan menemani selagi aku mengaduk-aduk adonan serabi. Kami membicarakan kejutan besar yang akan kami berikan pada putra kami pada hari berikutnya. Kami rasanya tidak sabar menunggu untuk melihat ekspresi wajahnya, ketika dia melihat Honda Tiger yang baru kami beli buat dia.
“Apakah kau benar-benar yakin dia akan menyukai itu?” aku bertanya.
“Itu motor bekas, bukan?” Yanto minum kopi lagi.
“Biarpun bekas, motor itu gagah, mulus dan kuat. Dia akan begitu bangga.”
“Kau tak merasa sangat memanjakannya bukan?” aku bertanya.
Yanto dan aku telah mengharapkan sebuah rumah yang dipenuhi anak-anak, namun Tuhan hanya menganugerahi seorang putra, Susilo. Dia senantiasa menunjukkan sikap sebagai anak yang begitu baik.
“Yah, dia akan memasuki Universitas tahun depan, dan aku ingin Natal ini menjadi waktu yang sangat khusus,” Yanto menjelaskan.
Pikiran tentang putra tunggalku pergi ke kota lain untuk berkuliah membuat air mata memenuhi pandanganku.
“Aku tak ingin anak kita pergi jauh untuk menuntut ilmu,” aku menggumam. Kutaruh kue serabi di atas meja dan kujatuhkan tubuhku ke dalam kedua tangan suamiku yang terentang.
“Ngomong-ngomong tentang anak kita, kemanakah dia pergi?” Yanto bertanya sambil memandang arlojinya. “Seharusnya dia sudah pulang sekarang.”
“Mungkin singgah ke rumah salah seorang temannya, dan tak ingat waktu,” aku menjawab.
Setengah jam telah berlalu, baik Yanto maupun aku mulai merasa gelisah. Bukan sikap Susilo membuat kami menunggu-nunggu dia seperti ini, khususnya dengan kue-kue serabi di atas wajan. Mendadak telepon bordering dan Yanto menjangkau gagangnya.
“Itu mungkin dia,” aku berkata, mendesahkan perasaan lega.
Petunjuk waktu oven berbunyi, dan aku segera mengeluarkan kue-kue serabiku. Aku memutar tubuh ketika mendengar Yanto menjatuhkan gagang telepon ke atas lantai. Wajahnya nampak tegang.
“Ada apa?” aku bertanya, rasa panik mulai memenuhi dadaku.
“Yanto, apakah itu? Siapakah yang menelpon?”
“Susilo tertabrak,” dia menjawab seolah-olah tak percaya apa yang sedang dikatakannya.
Jantungku terasa membeku dalam dada.
“Oh, tidak! Itu mungkin hanya kekeliruan saja. Dia sedang pergi ke pasar.”
“Yang menelepon itu Pak Polisi. Mereka sedang membawa Susilo ke RSCM,” dia menjelaskan.
Perasaan shock yang mula-mula melanda diri kami berubah menjadi ketakutan yang sangat mencekam, ketika Yanto melanggar segala peraturan lalu-lintas, meluncur sekencang-kencangnya melintasi kota menuju rumah sakit pusat. Namun itu masih belum cukup cepat bagiku. Dengan diam-diam, aku berdoa agar Susilo tidak terjadi apa-apa. Aku menatap Yanto untuk memperoleh kepastian, namun dia pun sama-sama takutnya seperti aku.
Ketika kami akhirnya sampai di rumah sakit, aku meloncat ke luar sebelum Yanto sempat mematikan mesin mobilnya. Kami saling bergandengan tangan erat-erat tatkala kami melangkah cepat melintasi lapangan parkir.
“Kami sedang mencari putra kami, Susilo Budiyanto,” dengan napas tertahan aku bertanya kepada petugas penerima di depan mejanya.
Ia menghindari pertanyaanku, memberikan beberapa lembar formulir ke tanganku, dan memimpin kami ke ruang tunggu. Ia bilang dokter akan berbicara dengan kami sebentar lagi.
“Apakah yang terjadi?” Yanto bertanya kepadanya.
“Apakah lukanya cukup parah.”
“Saya mohon maaf. Anda harus menunggu dan berbicara langsung dengan dokter yang menanganinya,” ia menjawab ramah namun tegas.
Bau disinfektan dan penyakit melanda lubang hidungku ketika kami duduk di kursi ruang tunggu yang berlapis plastik tebal. Seseorang telah mencoba menghidupkan suasana ruangan meja yang dihiasi pohon Natal, namun bau antiseptik masih tercium.
Yanto memisah lembar-lembar formulir, memberiku selembar daftar pertanyaan medis, sementara dia mengisi formulir-formulir asuransi. Aku berkonsentrasi menjawab halaman-halaman pertanyaan yang begitu banyak, ingin pura-pura tidak memperhatikan aktivitas yang berlangsung di sekitar ruang perawatan gawat-darurat.
Aku mencoba melihat sendiri apa yang dilakukan para dokter, namun Yanto menahanku.
“Biarkan mereka melakukan tugasnya,” dia membujuk, merangkulkan lengan ke bahuku yang gemetar.
Tak pernah selama hidup aku merasa demikian putus asa. Bahkan seandainya aku diijinkan melihat Susilo, aku sadar tak ada yang bisa aku lakukan untuk menolong dia. Ketika dia masih anak-anak, aku dapat menghilangkan rasa sakitnya dengan ciuman atau sepotong kue. Jika sekarang hanyalah seperti itu… aku akan hanya bisa menunggu dan berdoa.
“Tuan dan Nyonya Budiyanto?” seorang polisi bertanya ketika dia dan rekannya melangkah ke dalam ruang tunggu. “Saya Serda Purnomo, saya petugas pertama yang tiba di TKP.” Ekpresi suara pada wajah Serda Purnomo membuat perutku seakan terikat kencang. Baik dia maupun rekannya saling menghindari pandangan kami, ketika mereka menjelaskan kepada kami apa yang telah menimpa diri Susilo.
Bayangan putraku terbaring di lantai yang dingin, berlumuran darah, melanda pikiranku. Dia pasti sangat ketakutan. Aku berharap, akulah yang tertabrak bukan dia, dan akan dengan senang hati akan menggantikan tempatnya sekarang begitu dia berjuang keras mempertahankan usia mudanya.
“Kami telah menangkap penabrak itu sekitar tiga blok dari toko tersebut,” polisi yang lain menambahkan. Pada point ini, aku tidak ambil pusing polisi berhasil atau tidak menangkap penabrak anaknya itu. Perhatianku hanya terpusat pada keselamatan putraku.
“Anda melihat Susilo sebelum mereka membawanya ke rumah sakit,” aku bertanya, suaraku sangat parau hingga nyaris hanya terdengar sebagai bisikan.
“Bagaimana keadaan, Anda?”
Kedua polisi itu saling bertukar pandangan sedih, dan rasanya berabad-abad sebelum Serda Purnomo menjawab.
“Jantung putra Anda berhenti berdenyut dua kali, dan dia harus disadarkan dua kali sebelum mereka memasukkannya ke dalam ambulans. Dia masih hidup tapi tampaknya…”
Sedu-sedan mengguncang tubuhku ketika aku menjatuhkan diri ke dalam pelukan Yanto yang kuat. Putraku telah meninggal, dan aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku bahkan tidak boleh mendekati dia, memegang tangannya, dan membiarkan dia tahu mamanya sangat mencintainya.
Satu jam telah lewat, sebelum dokter muncul keluar untuk berbicara dengan kami. Wajahnya tampak letih dan sedih, bahunya merosot ke depan dalam sikap pasrah. Yanto dan aku bergegas mendekati, ingin mendengar tentang keadaan putra kami.
“Saya mohon maaf, Tuan dan Nyonya Budiyanto. Susilo tidak mampu bertahan. Kami sudah berusaha semampu kami, namun dia terlampau banyak mengeluarkan darah.”
“Tidak… Tidak… tidak…” aku berbisik, menggeleng-gelengkan kepala dalam ketidakpercayaan. Aku telah berdoa begitu khusyuk. Aku sadar Tuhan tidak akan membiarkan putra kesayanganku mati, tidak pada Hari Natal.

Wajah tampan Yanto tampak lebih tua dua puluh tahun tatkala dia mendengar berita itu. “Saya yakin Anda telah berusaha semampu Dokter,” dia menggumam.
Ketabahan tipis yang menahan kewarasan pikiranku terasa sirna. Dokter menyatakan keliru atau telah berbohong. Putraku, yang sangat sehat dan penuh gairah hidup tadi pagi, kini telah tiada. Aku tahu Tuhan tidak membiarkannya hidup dua kali hanya untuk kemudian membiarkannya mati. Ini pasti hanya sejenis gurauan yang tidak lucu, kejam, pikiranku yang tidak logis mengatakan. Para remaja tidak akan mati di hadapan orangtua mereka. Aku akan menyelidiki dasar kekacauan ini.
“Jangan percaya dia, Yanto. Dia bohong!” aku berteriak histeris.
“Aku ingin melihat putraku. Sekarang juga!”
“Saya kira itu bukan gagasan baik, Nyonya Budyanto,” dokter menanggapi. Kemudian dia memandang Yanto.
“Saya kira akan lebih baik jika saya memberi obat penenang kepada istri Anda.”
“Saya tak ingin obat penenang!” aku berseru.
“Saya ingin melihat anak saya, dan tak ada yang bisa untuk menghalangi saya.” Aku berjalan ke arah ruang pemeriksaan. Aku harus menghentikan kekacauan ini. Susilo sudah mati. Kami telah membelikan dia sepeda motor sebagai hadiah Natal.
Ketika aku mendorong pintu ruang pemeriksaan, seorang perawat sedang mematikan mesin-mesin dan melepas kaitan slang-slang dari tubuh yang tidak bergerak di atas usungan. “Ya Tuhan, pastikan mereka telah salah bicara,” aku berbisik ketika aku melangkah perlahan ke arah usungan. Yanto memelukku dari belakang.

“Mama, kuminta jangan kau lakukan ini,” dia berkata serak.
Aku melepaskan diri dari dia dan melangkah ke usungan. Aku memandang ke bawah, dan impianku yang terburuk menjadi kenyataan. Di bawah darah, luka-luka memar, dan slang-slang, wajah Susilo yang tak bernyawa membalas pandanganku. Tanpa ditahan pelukan Yanto yang kuat, tubuhku pasti sudah roboh, pingsan. Semua itu benar! Putra kesayanganku, yang hidup penuh gairah tadi pagi, telah mati.
Aku membungkuk dan memegang tangan Susilo. Aku tak tahu sudah berapa lama aku berdiri di sana, memeluknya, memandangi dia. Aku hanya ingat, tidak akan membiarkannya pergi, sampai kehangatan tubuhnya perlahan-lahan hilang.
“Semua ini kesalahanku,” aku bilang kepada Yanto dalam perjalanan pulang.
“Kau ngomong apa?”
“Aku ibu rumah tangga. Adalah tugasku untuk menyediakan bahan-bahan makanan,” aku menangis terisak-isak.
“Seharusnya aku sendiri yang membeli bahan-bahan itu. Dengan begitu Susilo masih tetap hidup.”
Yanto menghentikan mobil di pinggir jalan. Airmata meleleh turun ke wajahnya ketika dia menarik tubuhku. “Mama, kau istri yang baik, dan kau ibu yang mengagumkan bagi putra kita. Semua ini bukan kesalahanmu. Itu hanya telah terjadi, sudah nasib kita. Dan aku sudah tahu kenapa.”
Penderitaan pada upacara pemakaman dan minggu-minggu yang mengikuti berlalu dalam kesedihan yang sangat menyiksa. Yanto memberitahu bahwa kedua orangtuaku datang ke kota untuk menghadiri upacara pemakaman cucu mereka, namun aku nyaris tak ingat apakah aku telah berbicara dengan mereka.
Tanpa suara tertawa Susilo, rumah kami terasa dingin, sunyi dan hampa. Aku tetap mengharapkan dia untuk pulang ke rumah dari sekolah, melempar buku-bukunya ke lantai, dan melangkah langsung ke kulkas. Kadang-kadang aku masuk ke dalam kamarnya dan membenamkan wajahku ke bantal, di mana aroma tubuhnya masih tercium. Aku memandang sekeliling dan teringat waktu-waktu memarahi dia untuk membersihkan kamarnya yang berantakan seperti kandang ayam, atau berseru kepadanya karena minum susu langsung dari dusnya. Semua itu tampaknya benar-benar tidak penting lagi sekarang.
Suamiku berusaha keras mengajak aku melupakan kehilangan kami yang begitu berat bersama-sama, namun aku selalu menolak. Aku seakan-akan berkubang sendirian dalam perasaan berdosa dan kesedihan. Aku bahkan tidak keluar dari “sangkarku” untuk menghadiri sidang pengadilan orang yang menabrak Susilo.
Para sahabat dan sanak-saudaraku menyambut gembira sidang yang mengadili pemuda tersebut sebagai pria dewasa, dan menjatuhi dia hukuman penjara yang sangat lama. Itu tidak menjadi soal bagiku. Betapa pun lamanya hukuman, hal itu tak akan bisa menghidupkan kembali anakku. Yanto akhirnya menjual Honda Tiger yang tak pernah sempat dikendarai Susilo. Tak seorang pun dari kami mampu mamandang motor itu. Memandang itu hanya akan membuat kami memikirkan apa yang dapat dan seharusnya terjadi.

Yanto mencoba sekuat tenaga untuk menghibur aku. Dia membawaku keluar untuk bersantap malam, menonton bioskop, bepergian jauh dan berwisata. Kami bahkan mulai bermain cinta lagi. Kendati aku sangat mencintai Yanto, aku harus jelas bahwa aku hanya melakukan gerakan kehidupan saja. Persahabatan dengan teman-teman lama menghilang, ketika mereka menghentikan kunjungannya. Aku merasa kaku untuk melayani mereka atau melakukan yang lain. Dalam hati, aku tak bisa meneruskan sikap seperti ini. Lebih baik aku mati ketimbang hidup dengan penderitaan seperti ini!
“Selamat Hari natal, sayang,” aku berbisik ke potret Susilo.
“Mama segera bertemu kamu.” Dengan memejamkan kedua mata aku mengangkat genggaman pil ke mulutku. Aku sadar apa yang harus kulakukan, dan aku telah siap mati.
“Jangan lakukan itu, Mama!” Sebuah suara yang sangat aku kenal menjerit ke telingaku. Itu adalah suara yang aku begitu ingin mendengarnya selama satu tahun ini.
“Susilo?” aku berbisik, menjatuhkan pil-pil ke atas lantai.

Dengan putus asa aku memandang sekeliling kamar, mencari-cari anakku. Tapi, juga tak ketemukan dari mana asal suara itu datang, aku pun terduduk lemas di atas sofa sambil menangis.
Tiba-tiba Yanto bergegas masuk ke dalam kamar. Keringat membasahi piyamanya, dan napasnya terengah-engah. Dia menatap ke bawah, ke pil-pil yang berserakan di lantai, kemudian ke wajahku.
“Berdiri,” dia mendengus, menarik tubuhku dari sofa. Kemarahan memudarkan wajahnya, dan aku bisa melihat urat-urat darah berdenyut di lehernya. Gemetar karena mendengar suara Susilo dan kemarahan Yanto, aku mencoba menerangkan. “Aku belum menelannya,” gumamku.
Yanto tak mau mendengarkan. Dia mengenakan jaketnya dan melemparkan jaketku ke bahuku.
“Aku akan membawamu ke rumah sakit,” dia berkata, tegas. Kembali, aku mencoba menjelaskan kepada Yanto bahwa aku tak punya kesempatan menelan pil-pil itu. Tak ada alasan membawaku ke rumah sakit di tengah malam buta.

“Aku tak boleh bertindak ceroboh,” Yanto menjawab.
“Aku sudah kehilangan putraku. Yah, aku tak ingin kehilangan kau juga.”
Di sepanjang perjalanan ke rumah sakit, aku mencoba membuat Yanto memutar mobil dan membawaku kembali pulang ke rumah. Aku menjelaskan kepadanya bahwa tindakan itu benar-benar tidak berguna. Dia menatap wajahku lekat-lekat, matanya dipenuhi perasaan cinta yang tulus dan kasih sayang.
“Tidakkah kau mengerti, bahwa dirimu adalah segalanya bagiku?” dia bertanya lirih.
Tanpa mengacuhkan protesku, Yanto meminta dokter melakukan pemeriksaan menyeluruh pada diriku. Dia memberikan kepada dokter segenggam pil yang aku kumpulkan, dan menerangkan kepadanya bahwa aku mungkin telah menelannya beberapa butir. Aku tetap berusaha meyakinkan dokter, aku belum menelan sebutir pil pun. Namun, dia tetap mendesak untuk memeriksaku. Dia kemudian membuang-buang waktuku dengan melakukan segala jenis tes yang seharusnya tidak diperlukan.
“Baiklah, Nyonya Budiyanto, beruntung Anda belum menelan pil-pil itu,” dia berkata, sesudah menyelesaikan pemeriksaan fisik secara menyeluruh.
“Jika sebaiknya Anda akan membunuh diri Anda sendiri dan bayi Anda.”
“Bayi?” aku bertanya. Kupikir aku telah salah dengar. Bagaimanapun juga, umurku sudah empat puluh tiga tahun. Aku tak mungkin bisa hamil lagi.
“Anda sedang hamil dua bulan,” dokter menjelaskan apa adanya.
“Demi keselamatan bayi Anda, maka Anda harus menjaga diri Anda secara lebih baik lagi.”
“Apa istri saya akan pulih kesehatannya dokter?” dia bertanya kepada ahli medis itu.
“Pikirannya agak tertekan, namun selain itu tubuhnya sehat wal’afiat,” dokter menjelaskan kepadanya.
“Adakah sesuatu yang bisa saya lakukan untuk dirinya?” Yanto bertanya lagi, nada suaranya dipenuhi keprihatinan. Aku ingin menunggu waktu yang untuk menjelaskan kepadanya tentang kehamilanku, namun aku merasa tidak mampu menahannya lama-lama.
“Kita akan berbahagia lagi, Pa.”
“Papa?” Yanto mengulangi. Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
“Dalam waktu sekitar tujuh bulan kau akan menjadi ayah lagi.”
Yanto memelukku dan mengayunkan tubuhku memutar. Aku bergantung pada tubuhnya begitu kami menangis dalam kebahagiaan. Ini merupakan rasa kebahagiaan yang pertama kali kami alami sejak kematian Susilo.
Ketika kami tiba di rumah, aku menuang secangkir kopi untuk Yanto, dan membuat segelas susu bagi diriku sendiri.
“Yanto, apakah yang membuatmu berlari-lari ke ruang duduk malam ini?” aku bertanya. Ekspresi aneh muncul di wajah suamiku.
“Aku tahu kedengarannya aneh, namun aku merasa yakin Susilo mengguncang-guncang tubuhku dan berteriak-teriak untuk membangunkan aku.”
“Tidak, sayang, itu tidak terdengar aneh.”
Lantas aku ceritakan kepadanya tentang teriakan Susilo ketika aku akan menelan pil-pil itu.
“Kupikir aku hanya sedang bermimpi,” Yanto menanggapi. Kutuangkan lagi secangkir kopi buat suamiku dan segelas susu untuk diriku sendiri.
“Mari kita ber-toast untuk keajaiban-keajaiban ini,” Yanto berkata, mengangkat gelasnya.
“Dan untuk malaikat-malaikat pelindung,” aku menimpali.
“Selamat Hari Natal, Susilo.”
Putri kami, Anita, sudah berusia empat bulan sekarang, dan ia menjadi cahaya kehidupan bagi kami. Sesudah malam ketika aku nyaris bunuh diri itu aku segera berkonsultasi dengan psikiater, yang membantu memecahkan problemku yang berkaitan dengan kematian Susilo. Tidak ada hari yang berlalu tanpa perasaan kehilangan atas diri putraku. Namun, kini aku telah mampu mengatasi rasa kesedihan itu.
Ketika aku menunduk memandangi wajah Anita yang mungil, aku tahu Susilo sedang tersenyum manis ke adiknya. Pada suatu hari, ketika ia sudah dewasa nanti aku akan menceritakan kepadanya tentang abangnya dan malam ketika dia menyelamatkan kehidupan kami berdua!

by Dewi fortuna

Senin, 15 September 2014

AKU MENCINTAIMU SEBISA DIRIKU,,

Aku mencintaimu sebisa diriku..
Tanpa haru yang menderu..
Tanpa hati yang mematri..
Tanpa asa yang bersemi..

Aku mencintaimu semampu diriku..
Tanpa kehadiran..Tanpa pujian..Tanpa sentuhan..Tanpa pelukan..

Aku mencintaimu senyaman langkahku..
Tanpa untaian kata cinta..Tanpa hasrat yang menggebu..
Tanpa keberadaan yang berpadu..

Hanya bayangan hatiku dan hatimu yang menyatu..
Karena cinta bukan dosa..
Tapi cinta adalah kejujuran jiwa..
Hingga sampai nanti indah pada waktunya.

Selasa, 05 Agustus 2014

Dilema antara persahabatan dan cinta



Penulis: Alvi Syahrin 
Penerbit: Bukune
Novel ini menceritakan mengenai persahabatan tiga orang pelajar SMA, yaitu Kira, Estrella, dan Adri. Mulanya hanya Kira dan Estrella saja yang berteman. Namun karena suatu tugas mata pelajaran, mereka berdua pun bersahabat dengan Adri, remaja pendiam nan misterius. Perlahan-lahan juga, kelak Kira akan jadian dengan Adri.
Walaupun begitu, hubungan pacaran antara Kira dan Adri tak seperti orang pacaran umumnya. Setiap kali mereka kencan, selalu saja ada Estrella. Kira agak risih, tapi tidak dengan Adri. Adri tak mempermasalahkannya. Adri tak ingin semuanya berubah hanya karena dia sudah menjadi pacarnya Kira. Apalagi faktor lainnya ialah kondisi kejiwaannya Estrella yang memang sungguh butuh teman. Inilah yang tidak dilihat Kira.
Hingga akhirnya, gara-gara Adri yang terus bersikukuh agar Estrella tetap hadir di setiap kencannya, terjadi konflik antara Adri, Kira, dan Estrella. Persahabatan mereka tengah diuji. Mulanya itu terjadi sewaktu Adri mutusin Kira, dan Estrella menolak Danny yang terang-terang suka dengannya. Muncullah gosip tak enak seputar Kira, Adri, dan Estrella. Gosip itulah yang membuat hubungannya Estrella dengan Kira semakin renggang.
Pada akhirnya pula, baik Kira, Estrella, maupun Adri kembali berteman akrab. Ke semuanya itu terjadi sewaktu kepulangannya Estrella dari program pertukaran pelajaran dari Australia. Persahabatan mereka kembali utuh. Selain itu, Estrella  pun tak perlu merasakan kesepian lagi, karena sudah ada Danny yang mencintainya dengan tulus.
Secara keseluruhannya, novelnya blogger asal Surabaya ini cukup apik. Saya suka dengan caranya penulis membuat suatu cerita dari sesuatu yang klise. Anak yang ditinggal mati ibunya dan belum siap punya ibu baru ataupun anak yang harus siap orangtuanya bercerai. Itulah segelintir klise yang ada. Karena itulah, sempat mengira kalau Estrella bakal jadian dengan Adri. Kenyataannya, malah tidak.
Novel ini juga tidak seratus persen bertema cinta. Novel ini berusaha memberikan gambaran ke kita semua tentang apa itu persahabatan dan kesukarannya saat bertemu dengan cinta. Novel ini juga membawa kita bernostalgia dengan masa-masa SMA, walaupun agak terganggu dengan banyaknya istilah asing yang ada. Apakah pemakaian istilah asing di percakapan sehari-hari memang lumrah di kalangan remaja? Tapi it’s okay, saya suka dengan caranya dia mendefinisikan persahabatan tersebut. Selain itu, penggunaan sejumlah lirik lagu sebagai judul babnya sungguh mengingatkan dengan novel Infamous karyanya Silvia Arnie.
Diksinya juga lumayan enak dibaca oleh para remaja, apalagi mengingat setting-nya adalah kehidupan SMA. Begitupun juga dengan konflik yang ada, yang tak terlalu rumit, juga tak terlalu mudah.Mengenai kavernya sendiri, saya suka dan mulai mengerti maknanya. Benar-benar cocok dengan konflik yang ada tersebut. Satu burung yang pergi menggambarkan Estrella yang rela menjauh demi melihat Kira bahagia dengan Adri.
Akhir kata, saya memberikan nilai 8 dari 10 bintang.

BLUE IS THE WARMEST COLOR (2013)



Diadaptasi dari novel grafis berjudul sama karangan Julie Maroh, Blue is the Warmest Color adalah film yang tidak hanya berhasil meraih Palme d'Or pada ajang Cannes Film Festival tahun lalu namun juga berhasil mengguncang dengan kontroversi yang muncul karena konten seksualnya yang sangat vulgar. Selain karena kemenangannya di Cannes film ini memang banyak dibicarakan karena adegan seks lesbian yang dilakoni oleh dua aktrisnya dimana adegan tersebut disajikan dengan vulgar dan berlangsung selama lebih dari tujuh menit. Beberapa cerita miring tentang perlakuan tidak mengenakkan sutradara Abdellatif Kechiche kepada para kru dan pemainnya juga turut mengiringi perilisan film ini. Namun diluar segala kontroversi tersebut, Blue is the Warmest Color memang sebuah film yang begitu kuat dalam bertutur selama durasinya yang mendekati tiga jam. Menggabungkan kisah coming-of-age tentang pencarian jati diri dengan kisah romansa erotis sesama jenis, film ini membuktikan bahwa segala momen vulgar dan ketelanjangan yang hadir bukan sekedar cari sensasi belaka namun merupakan sebuah aspek substansial yang tidak bisa dipisahkan sebagai salah satu pondasi emosi filmnya. Jika dalam novel grafisnya ada sosok Clementine, maka versi filmnya memiliki Adele (Adele Exarchopoulos), seorang remaja SMA berusia 17 tahun.
Bersama teman-temannya Adele sering bergosip tentang para pria di lingkungan sekolah mereka. Adele sendiri tengah memulai sebuah hubungan dengan Thomas (Jérémie Laheurte), namun anehnya Adele tidak merasakan adanya gejolak seperti cinta dan hasrat dalam hubungan tersebut. Suatu hari ia dan sahabatnya yang gay, Valentin (Sandor Funtek) pergi ke sebuah gay bar. Disanalah Adele bertemu dengan Emma (Lea Seydoux), seorang gadis tomboy berambut biru yang dulu pernah berpapasan dengannya di jalan. Keduanya pun mulai saling mengobrol dan rutin bertemu sekedar untuk menghabiskan waktu bersama mengobrol di taman. Perlahan keduanya pun mulai berpacaran dan tinggal bersama. Hari-hari mereka diisi dengan kebahagiaan dan hasrat memuncak yang selalu tersalurkan lewat hubungan seks yang penuh gairah. Namun memasuki paruh kedua dalam kisah kehidupan Adele semuanya perlahan mulai berubah dimana segala kebahagiaan dan cinta mereka mulai mendapat cobaan. Termasuk dilema yang terjadi berkaitan dengan pencarian jati diri dan orientasi seksual dari Adele.

Jika dalam novel grafisnya warna biru terasa mencolok karena selain rambut Emma gambar lainnya diberi warna hitam putih. Dalam versi filmnya, sutradara Abdellatif Kechiche melakukan hal yang mirip dengan apa yang dilakukan oleh Krzysztof Kieślowski dalam trilogi tiga warna miliknya, yakni sebanyak dan sedetail mungkin memasukkan sebuah warna dalam hal ini biru pada tiap-tiap set dan properti dalam film. Mulai dari hal besar yang nampak jelas seperti layar LCD, kostum pemain, air laut bahkan sampai hal-hal terkecil seperti ornamen yang terdapat pada piring dan gelas didominasi oleh warna biru. Tentunya yang paling mencolok adalah warna biru dari rambut Emma. Tapi ini bukan hanya style tanpa substansi, karena tanpa sadar dengan mendominasinya warna biru penonton pun dibuat selalu teringat pada sosok Emma dan secara tidak sadar pula mulai terikat dan tertarik pada sosoknya. Bagaikan sebuah subliminal message film ini mampu membuat bawah sadar penontonnya terikat dengan sosok Emma si gadis berambut biru. Kita sebagai penonton seolah diajak merasakan adiksi dan ketertarikan yang sama seperti yang dirasakan oleh Adele terhadap Emma. Karena itu pada paruh kedua disaat Adele tidak lagi berambut biru, kita juga merasakan rasa kehilangan yang sama seperti Adele. Kita merasa bahwa Emma sudah berubah dan kita pun rindu akan sosoknya yang lama. Inilah kenapa filmnya berjudul Blue is the Warmest Color karena selama menonton kita akan mengasosiasikan warna biru dengan segala kehangatan, romantisme dan kebahagiaan.
 
Durasinya mendekati tiga jam. Alurnya berjalan dengan tempo medium namun beberapa kali muncul adegan berulang. Pergerakan dari satu momen ke momen lain pun memakan waktu yang tidak sebentar. Berbagai hal tersebut memang berpotensi membuat filmnya terasa melelahkan. Tapi semua itu dilakukan dengan tujuan untuk menghadirkan segala aspek dalam kehidupan Adele dengan sejelas dan sedetail mungkin. Paruh pertamanya bertutur tentang Adele yang tengah kebingungan mencari jati diri berkaitan dengan orintasi seksual miliknya. Kita diperlihatkan bahwa Adele benar-benar melakukan pencarian dan bukan hanya dirundung kebingungan belaka. Dia mencoba berhubungan dengan pria tapi pada akhirnya segala hasrat yang ia cari lebih bisa terpuaskan dengan wanita. Kemudian bagaikan takdir akan jodoh kita diperlihatkan bahwa Adele secara tidak sadar melakukan pencarian terhadap Emma dan mereka pun akhirnya dipertemukan. Paruh keduanya pun berjalan dengan serupa, bagaimana hubungan Emma dan Adele mulai bermasalah dan perlahan tergerus semuanya dihadirkan setahap demi setahap dimana tiap tahap dipaparkan dengan begitu mendetail hingga penonton bisa benar-benar memahami isi hati dan pikiran karakternya. Film ini tidak pernah terburu-buru berjalan, bahkan obrolan pertama Adele dan Emma baru terjadi saat filmnya sudah berjalan lebih dari 40 menit.
Kemudian kita sampai pada adegan seksnya yang kontroversial itu. Berjalan lebih dari tujuh menit (kabarnya versi yang diputar di Cannes berjalan lebih dari 10 menit), adegan tersebut benar-benar disajikan dengan vulgar, gamblang dan begitu liar. Adegan seksual yang terasa begitu nyata bahkan disaat saya sudah tahu bahwa kedua aktrisnya memakai vagina buatan yang ditempelkan diatas yang asli saya tetap "terbuai" akan begitu nyatanya adegan tersebut. Tanpa ada iringan musik sedikitpun, hanya erangan dan rintihan dua aktrisnya yang menemani tujuh menit penuh gairah ini dan itu membuat adegannya terasa begitu jujur. Segala hasrat, gairah dan cinta yang ada pada kedua karakternya terpancar begitu kuat dari seks yang terjadi. Tentu saja totalitas serta chemistry yang terjalin antara Adele Exarchopoulos dan Lea Seydoux turut berperan besar pada keberhasilan itu. Namun apakah adegan seks yang panjang dan vulgar ini hanya sekedar penambah bumbu erotisme? Tentu saja tidak, karena berkat momen inilah saya dibuat merasakan bagaiaman besarnya hasrat dan rasa cinta yang terjalin diantara Adele dan Emma. Pada akhirnya adegan seks tersebut tidak hanya menjadi sekedar tempelan dan pemanis belaka seperti yang banyak terjadi dalam film-film mainstream kebanyakan dimana pemain yang berhubungan seks pun nampak tidak menikmati adegan seksnya.
Blue is the Warmest Color tidak hanya sebuah film LGBT saja karena secara keseluruhan kontennya bisa terasa universal. Ini adalah kisah coming-of-age tentang pencarian jati diri, kisah cinta berbalut seksual yang tentu saja dibumbui kecemburuan sebagai konfliknya. Krisis identitas yang dialami Adele terasa begitu kuat mengiringi film ini, bahkan hingga filmnya berakhir pun konflik tentang krisis identitas tersebut masih terus menghantuinya. Namun jika bicara tentang LGBT, film ini juga memperlihatkan bahwa tidak semua LGBT berasal dari keluarga yang tidak harmonis. Lihatlah Adele dan Emma yang berasal dari keluarga hangat, ramah dan penuh tawa. Bahkan kedua orang tua Emma menegtahui bahwa sang puteri adalah lesbian dan tidak mempermasalahkan itu. Karena pada akhirnya mereka tahu bahwa Emma menjalani hidupnya sebagai lesbian dengan tetap berlandaskan rasa cinta. Blue is the Warmest Color adalah film yang begitu kuat baik dari cerita maupun dari sisi akting dan chemistry dua aktrisnya. Lihat bagaimana keduanya terasa ebgitu jatuh cinta saat obrolan diawal hubungan mereka,lihat bagaimana adegan seks yang penuh gairah itu, lihat juga bagaimana momen putus yang berisikan pertengkaran yang mengaduk-aduk emosi itu. Bukan hal mudah membuat adegan seks lesbian yang penuh gairah dan erotisme menjadi sebuah adegan penuh kedalaman emosional, dan Blue is the Warmest Color berhasil melakukannya.

Senin, 02 Juni 2014

Perjalanan Hidup seorang Guru Music "Kurniawan Rakaberi Prakosa"


Saat beberapa orang datang dan menanyakan ke aku hal yang sama yaitu tentang profesiku dengan nada2 iri :
Lha njenengan lulusan universitas mana?
|Saya belum sempet kuliah, dulu lulus SMA langsung dapet tawaran nglatih musik sana sini, jadi tak telateni saja sampe sekarang
|Oalah kok malah gak kuliah
|Loh mending kaya gini kan, saya gak kuliah tapi bisa cari nafkah sendiri, bisa bantu keadaan ekonomi, daripada yang kuliah tapi cuma buat gengsi aja, malah rugi.|

Trus aku mikir, kadang2 beberapa orang pikirannya masih tertutup, masih melihat sesuatu dari luarnya saja, belum bisa lihat sisi baiknya, apa yang nanti bisa "kami" hasilkan. Jadi begini, mereka masih berpikiran "oh orang ini latar belakangnya aja gak sekolah, apa ya bisa membuahkan hasil yang baik?"
Dipikiranku begini; Lho, sekarang lebih mending gelar dan latar belakang, atau ilmunya? Yang kita utamakan itu adalah ilmu yang dapat "anak-anak" terima serta bermanfaat untuk masa depan mereka kan?
Gak peduli apa latar belakang "si pengajar", yang penting ilmunya tersampaikan dengan baik dan dari awal niatnya sudah baik, yaitu pengen membagi ilmu yang ia punya.
Daripada yang sudah "punya nama" tapi ilmunya gagal tersampaikan ke murid atau malah dia segan untuk membagi ilmunya?
Bukannya menyombongkan diri, saya gak suka kesombongan. Tapi ini kenyataanya, beberapa murid-murid dari beberapa sekolah yang saya didik dalam bidang musik,
bisa meraih beberapa kejuaraan yang patut dibanggakan.

Jadi kesimpulannya begini, kita hidup tidak lepas dari masalah, kita hadir di dunia ini, pasti ada orang2 yang bisa terima kita, tapi ada juga yang gak bisa terima kita.
Jalani hidup anda dengan ketenangan hati, kedamaian terhadap orang lain, dan selalu pada jalan yang baik.
Salam damai, salam budaya, dan SEMANGAT, God Bless You All ... \m/

Jumat, 02 Mei 2014

Hunting makanan Enak ala Anak Kos di Bandung



1. NASI GORENG
a. Borobudur, Jl. Setiabudi
b. Sumber Hidangan, Jl. Braga
c. Braga Permai
d. Daerah Gerlong, dekat rental Prambanan
e. Toko Yu, Jl. Dipati Ukur
f. Jl. Bahureksa - depan SMPK 4 BPK
g. Nasi Goreng Bejo, kantin Fisip UNPAR
h. Nasi Goreng JL. Rajiman
i. Jl. Sadewa
j. Jl. Kresna (depan salon, dekat lapangan)
k. Nasi Goreng Ohar (Pasar Baru)
l. Nasi Goreng Jl. Kresna (depan Salon, dekat lapangan)
m. Nasi Goreng di Abadi, Jl. Setiabudhi
n. Nasi Goreng Ikan Asin, di Kafe Batu, Jl. Burangrang
o. Nasi Goreng Ikan Asin, di Gerbong Antrik
p. Nasi Goreng Jl. Pasirkaliki
q. Nasi Goreng Pak Reso Jl. Cihapit

2. BASO TAHU
a. Borobudur, Jl. Setiabudi
b. Baso Panghegar Jl. Holis
c. Kingsley, Jl. Veteran, Bungsu
d. Baso Tahu Tegallega, dekat Gg. Jaya, depan Jl. Otista 457
e. Baso Tahu Wibisana, Jl. Rama

3. BATAGOR
a. Jl. Purnawarman (dekat pintu keluar tempat parkir Gramedia)
b. Jl. Cibadak (depan toko buku Merauke)
c. Jl. Burangrang, di Martabak San Fransisco
d. Jl. Bungsu (dekat toko kue 10 Satu)
e. Batagor di Simpang Dago dan Kopo
f. Batagor RIRI Jl. Burangrang
g. Batagor 99, Jl. Pasirkaliki bawah, sebelum stopan Pajajaran



4. GUDEG
a. Jl. Lombok dekat EEP ( pindahan dari jalan Banda )
b. Jl. Surya Sumantri (sejajar museum Barli)
c. Gudeg Kabita, Jl. Jend Sudirman seberang rest. Phoenix
d. Gudeg Jogya Jl. RE Martadinata
e. Jl. Ksatriaan (dulunya gudeg Capitol)
f. Jl. Semar dekat gereja Ka Im Tong
g. Gudeg di dekat SMA Aloy Jl.Sultan Agung
h. Di Jl. Ciumbeluit
i. Segitiga Emas Kosambi, Jl. Achmad Yani

5. BASO MALANG
a. Jl. Cihampelas, dekat wartel/St. East
b. Jl. Rajiman antara Likmi dan SD Paulus
c. Jl. Cipaganti (dekat Mesjid Raya Cipaganti)
d. Warung di Jalan Surya Sumantri
e. Sekitar Mesjid Istiqamah Jl. Citarum (antara Rp. 1000 - 2000)
f. Bakso malang Jl. Burangrang dekat restoran Sedep Malem
g. Bakso Malang Jl. Karapitan
h. Bakso Malang Jl. Riau di depan SMA Taruna Bakti

6. BASO KUAH
a. Depan Hotel Panghegar
b. Baso Panghegar Jl. Holis
c. Mie Baso pangsit, Jl. Lombok dekat prapatan Aceh
d. Baso sapi/pangsit/wonton udang kuah di Bakmi Ayam Jakarta, Jl.Cihampelas
e. Gang Kebon Karet ( Jl. Otista seberang Danamon )

7. LONTONG KARI
a. Dekat Gubernuran, masuk gang
b. Mentok Jl. Semar (masuk lewat Paskal)
c. Gang Kebon Karet ( Jl. Otista seberang Danamon )

8. MIE / YAMIEN + MIE KOCOK + LOMIE
A. MIE / YAMIEN
a. Mie rica Jl. Kejaksaan
b. Gg. Bapa Supi
c. Gg. Luna (Sudirman - Andir)
d. Jl. Balonggede (masuk dari Dalem Kaum sblh kiri)
e. Mie Naripan, di perempatan Jl. Sunda dan Naripan
f. Baso Panghegar, depan Toko You, Jl. Hasanudin
g. Mie Akung, Jl. Lodaya
h. Mie Jl. Kebon Tangkil ( Yamien asinnya enak )
i. Mie Jl. Astana Anyar
j. Yamien Medan, Jl. Tamim
k. Kupat Tahu, Lotek, dan Mie Ayam Jl. Alketeri
l. Mie Abadi (dulunya teh Tanabe), Jl. Setiabudhi
m. Mie Akim, Jl. Rama

B. MIE KOCOK
1. Jl. Banteng
2. Jl. H. Akbar, depan Kartika Sari
3. Mie kocok Jl. Sunda dekat Biliard Manhattan
4. Jl. Semar ( masuk lewat Paskal )

C. LOMIE
a. Jl. Suwatama
b. Jl. Kalipahapo
c. Jl. Gardujati ( Restoran Utara )
d. Jl. Astana Anyar
e. Jl. Gardujati, sejajar dengan restaurant Dunia Baru
f. Lomie di Jl. Rama

9. KWE TIAUW SAPI, GORENG, SIRAM, BUN, dll.
a. Jl. Gardujati (dekat gereja Hokimtong)
b. Jl. Rajiman (warung Artomoro)
c. Jl. Astana Anyar seberang Bank Prima Express
d. Jl. Sadewa

10. SATE
a. Sate ayam Jl. Maulana Yusuf, seberang Gereja
b. Sate Jl. Kejaksaan (Jl.Tamblong ke kiri) samping binatu
c. Sate kambing pak Karjan Jl. Pasirkaliki
d. Sate di depan mie Naripan
e. Sate Madura di Jl. Anggrek (masuknya lewat Riau)
f. Sate dan Gule Warung Tegal di dekat jalan Tol Pasteur (lewat dari Maranatha ke paskal)
g. Sate Hadori di seberang Stasiun KA (St. Hall) masuk lewat Jl. Kebonjati, Jl. Dulatip, belok kanan
h. Sate kambing Jl. Balonggede (seberang Palaguna Plaza) masuk lewat Dalem Kaum sebelah kiri
i. Sate Ayam Jl. Gatot Subroto ( pujasera )
j. Jl. Karang anyar (Bareng tukang juice)
k. Jl. Aceh (blk. tukang besi, 100 m dari stopan)
l. Sate ayam Blora, Jl. Pasirkaliki. dari selatan, sebelum perempatan Pajajaran- PasirKaliki sebelah kanan

11. JAGUNG BAKAR 4 RASA
a. seberangnya Super Indo Dago
b. Cibadak dekat tukang Jus / milk Shake
c. Sepanjang jalan Dago

12. AYAM GORENG
a. Jl. Panaitan (Ayam Goreng Nikmat )
b. Jl. Semar dan Surya Sumantri (Ayam Semar)
c. Jl. Ayam Goreng Brebes, arah ke Lembang
d. Ayam Goreng / Bakar + usus + lalap + sambel "Ngudi Rahayu", Jl. Lombok
e. Ayam Suniaraja (Pojokan, depan Hotel Panghegar)
f. Ayam Goreng Tepung Lamping, Jl. Lamping, Cipaganti
g. Ayam goreng Ma Uneh, Pajajaran (sore jam 5)
h. Ayam Goreng Facktoy (Warung di Suniaraja), dekat Hotin
i. Ayam Jogja Jl. Putri dan Jl Kejaksaan
j. Ayam POP Ciumbeluit atas, sesudah UNPAR
k. Ayam rica di Jl Setiabudhi (masuk gang) kira-kira 200 m setelah Enhaii sebelah kiri
l. Di samping ayam goreng Brebes dan ayam goreng 2001, Lembang (sambelnya lebih enak)
m. Ayam goreng Raben, Ciumbeluit

13. BUBUR AYAM
a. Jl. Asia Afrika (dekat PR)
b. Gg. Kasmin - Jend. Sudirman
c. Jl. Jend. Sudirman, lewat caringin sebelah kanan, daerah Jamika (malem)
d. Perempatan Pasteur-Paskal, dekat rumah makan Naya
e. Mang Oyo, Dekat RS. Sumber Asih, depan lapangan, di depan Jl. H. Hasan dan H. Wahid (daerah Dipati Ukur)
g. Jl. Pajajaran (dari arah IPTN - lewat Jl. Pandu sekitar 20-40 m, sebelah kiri)

14. PEMPEK
a. Pempek Rama, Jl. Rama
b. Jl. Karang Anyar, sedikit di bawah pempek Setiabudhi masuk gang
c. Pempek Pak Raden Jl. Rama
d. Pempek di pertigaan Kalipah Apo- Otista

15. ROTI BAKAR
a. Jl. Gardujati
b. Jl. Kote (daerah Jl.Sudirman)
c. Jl. Kasmin (daerah Sudirman)
d. Jl. Ganesa (dekat Borromeus)
e. Jl. Surapati
f. Jl. Dago

16. RONDE JAHE
a. Jl. Burangrang, Martabak San Fransisco
b. Jl. Alketeri , Asia Afrika
c. Jl. Sumatera (seberang bioskop Regent)

17. LOTEK
a. Lotek Kalipah Apo, Jl. Ciguriang - sebelah King Shopping
b. Jl. Moh. Ramdan, dari arah Jl. Pungkur sebelah kiri
c. Di komplek Sumber Sari, seberang BCA
d. Jl. Macan
e. Jl. Kelenteng
f. Jl. Mahmud (jam-jam Sekolah)
g. Jl. Haji Akbar (dekat Kartika Sari)

18. SWIKE
a. Jl Cibadak pengkolan Jl Cibadak-Astana Anyar.
b. Jatiwangi Jl. Cihampelas.
c. Jl. Gandapura, sebelah Next Computer

19. PEUYEUM
a. Pasar Sederhana
b. Jl. Cihampelas

20. MINUMAN
I. Es Campur
a. Dekat Kingsley, Jl. Veteran, Bungsu "Es Campur Bungsu" -
Asal mula es campur OYEN.
b. Es 'campur' di Sultan Plaza lt atas
c. Es Campur Jl. Putri

II. Es Cendol
a. Es Cendol Elizabeth Jln Cihampelas, dekat Sapu Lidi Jeans
b. Es Cendol Nurita di salon Nurita Jl Sulanjana dekat Widji

III. Aneka JUICE
a. Aneka jus Bakmi Ayam Jakarta, Jl. Cihampelas (sebelah Karya Umbi)
b. Warna Sari Kantin, Jl. Taman Sari
c. Kantin Sakinah, belakang pasar Simpang, Jl. Tubagus Ismail
d. Cibadak , Milkshake jus (tempatnya tukang jagong, pengkolan gang Kasmin)
e. Jl. Gardujati
f. Jl. Kalipah apo
g. Jl. Astana anyar
h. Jl. Rama

IV. Yoghurt
a. Jl. Cisangkuy
b. Kantin Masjid Salman ITB

21. SOP KAKI SAPI
a. Di ujung Jalan Banceuy
b. Di seputaran PLN Asia Afrika

22. MASAKAN JEPANG
a. Warung Jepang, dekat simpangan Karang Anyar - Astana Anyar
b. Hanamasa, Inazuki, Miyazaki

23. MASAKAN MANDARIN
a. Phoenix, Jend Sudirman
b. Chinese Food, Jl. Sunda, seberang Yogya Dept. Store
c. Jl. Paskal, depan Hotel Familie II
d. Masakan Mandarin di Jalan Yo Soen Bie
e. Rose, Jl. Ahmad Yani
f. Dunia Baru, Jl. Gardujati
g. A Siong, Jl. Kebon Kawung (sejajar dengan martabak Canada)

24. STEAK
a. Road Cafe, di Jalan Cilaki
b. Chiba, Jl. Dr. Rum
c. Pasadena, di daerah Sukajadi
d. Milala, Jl. Lombok dekat SMAN 5
e. STEAK a la Jepang Ichiban, Jl. Abd. Rahman Saleh
f. Di sebelahnya ENHAII
g. Taboo, Jl. Burangrang di sebelah Wartel, - dekat Bank Bali
h. K'One El's di belakang Unpar
i. Tizis, Jl. Kidang Pananjung, Dago
j. Glosis, daerah Ciumbuleuit
k. Jl. Sadewa
l. Bayou steak

25. RUJAK/ASINAN
a. Jl. Tengku Angkasa, Dipati Ukur
b. Jl. Kalipah Apo , tempat lotek Kalipah apo
c. Jl. Kelenteng
d. Jl. Macan
e. Rujak Sumber Sari
f. Jl Pungkur (dekat Karapitan)

26. KUPAT TAHU - TAHU
a. Pasar Balubur, di belakang tukang buah
b. Jl. Putri (ujung)
c. Tahu Yun Sen, Jl. Jendral Sudirman
d. Kupat Tahu di Jl. Gempol Wetan (dekat pasar)
e. Kupat tahu petis di pertigaan Jl. Reog dan Jl. Angklung
f. Kupat tahu petis di Jl. Pungkur, di sebelah Bengkel Teknik Willy's

27. SOTO
a. Soto Bandung dan Aneka Jajanan Buka Puasa Jl.Macan, Buah Batu
b. Soto Po Jl. Kelenteng
c. Soto Po Jl. Veteran (sebelum Jl. A.Yani, setelah Jl. Sunda)
d. Soto Banjir Jl. Astana Anyar

28. BAKERY
a. La Belle, Jl. Dago
b. Sweet Heart/Bawean, Jl. Bawean dan Riau, Nougat Cake - Wafer Coklat
c. Rasa, Jl. Tamblong (Ice Cake, Black Forest)
d. Abadi, Jl.Purnawarman
e. French, Jl. Braga

29. KUO TIE
a. Kuo Tie Santung, Jl, Pasirkoja
b. Kuo Tie di Jl Cibadak
c. Kuo Tie, Jln.Martadinata
d. Kuo Tie Utara Jl. Gardujati
e. Kuo Tie Jl. Rama

30. MARTABAK
a. San Fransisco Jl. Burangrang
b. Martabak Jagung Jl. Sudirman dekat pasar Andir
c. Martabak Capitol Jl. Sudirman dekat Capitol Plaza
d. Martabak Canada Jl. Kebon Kawung
e. MARTABAK HOLLAND Jl. Cibadak *GRIN*
f. Gg. Kasmin - Jend. Sudirman

31. KEPITING
a. Restoran Shantung Jl. Pasirkoja
b. Restoran Rose Jl. Ahmad Yani
c. Restoran Mustika, Jl. Ciumbuleuit
d. Seafood Jl. Sulanjana

32. SEAFOOD
a. Inti Laut ( Restoran ) Jl. Pasirkaliki
b. Pancoran ( Restoran ) Jl. Terusan Pasteur
c. Nelayan ( Restoran ) Jl. Terusan Pasteur

33. NASI KUNING
a. Jl. PasirKoja
b. Jl. Gardujati