Selasa, 20 Januari 2015

PENYIMPANGAN SEKS PADA REMAJA


Kita telah ketahui bahwa kebebasan bergaul remaja memang diperlukanagar mereka tidak kuper yang biasanya jadi anak mama. "Banyak teman makabanyak pengetahuan". Namun tidak semua teman kita sejalan dengan apa yangkita inginkan. Mungkin mereka suka hura-hura, suka dengan yang berbaupornografi dan tentu saja ada yang bersikap terpuji. Oleh karena itu memilihteman itu penting, apalagi bagi mereka yang mudah terbawa arus dan kurang bisamenjaga diri agar kita tidak terjerumus ke pergaulan bebas yang menyesatkan.Masa remaja merupakan suatu masa yang menjadi bagian dari kehidupanmanusia yang di dalamnya penuh dengan dinamika. Dinamika kehidupan remajaini akan sangat berpengaruh terhadap pembentukan diri remaja itu sendiri. Masaremaja dapat dicirikan dengan banyaknya rasa ingin tahu pada diri seseorangdalam berbagai hal, tidak terkecuali bidang seks.Seiring dengan bertambahnya usia seseorang, organ reproduksipun mengalami perkembangan dan pada akhirnya akan mengalami kematangan.Kematangan organ reproduksi dan perkembangan psikologis remaja yang mulaimenyukai lawan jenisnya serta arus media informasi baik elektronik maupun nonelektronik akan sangat berpengaruh terhadap perilaku seksual individu remaja tersebut. Salah satu masalah yang sering timbul pada remaja terkait dengan masaawal kematangan organ reproduksi pada remaja adalah masalah kehamilan yangterjadi pada remaja diluar pernikahan. Apalagi apabila Kehamilan tersebut terjadipada usia sekolah. Siswi yang mengalami kehamilan biasanya mendapatkanrespon dari dua pihak. Pertama yaitu dari pihak sekolah, biasanya jika terjadikehamilan pada siswi, maka yang sampai saat ini terjadi adalah sekolahmeresponya dengan sangat buruk dan berujung dengan dikeluarkannya siswitersebut dari sekolah. Kedua yaitu dari lingkungan di mana siswi tersebut tinggal,lingkungan akan cenderung mencemooh dan mengucilkan siswi tersebut. Haltersebut terjadi jika karena masih kuatnya nilai norma kehidupan masyarakat kita.Kehamilan remaja adalah isu yang saat ini mendapat perhatian pemerintah, karenamasalah kehamilan remaja tidak hanya membebani remaja sebagai individu danbayi mereka, namun juga mempengaruhi secara luas pada seluruh strata di
masyarakat dan juga membebani sumber-sumber kesejahteraan, namun alasan-alasannya tidak sepenuhnya dimengerti. Beberapa sebab kehamilan termasuk rendahnya pengetahuan tentang keluarga berencana, perbedaan budaya yangmenempatkan harga diri remaja di lingkungannya, perasaan remaja akanketidakamanan atau impulsifisitas, ketergantungan kebutuhan dan keinginan yangkuat untuk mendapatkan kebebasan. Selain masalah kehamilan pada remajamasalah yang juga sangat menggelisahkan berbagai kalangan dan juga banyak terjadi pada masa remaja adalah banyaknya remaja yang mengidap HIV/AIDS.

Usia Pubertas
Remaja yang mengalami usia puber dini mempunyai peluang berperilakuseksual berisiko berat 4,65 kali dibanding responden dengan usia pubertas normal(95%CI=1,99-10,85). Dari penelitian (Affandi, 1991) dinyatakan terjadipercepatan masa pubertas bagi perempuan. Sekarang pada usia 12 tahun ataukurang telah terjadi pubertas pada perempuan. Hasil penelitian ini sejalan denganhasil analisa WHO (2004) bahwa pubertas dini merupakan faktor risiko perilakuseksual. Pubertas sebagai tanda awal keremajaan tidak lagi valid sebagai patokanpengkategorian remaja sebab usia pubertas yang dahulu terjadi pada 15-18 tahunkini terjadi pada awal belasan bahkan sebelum usia 11 tahun. Menurunnya usiakematangan ini disebabkan oleh membaiknya gizi sejak masa anak-anak danketerpaparan remaja pada media informasi melalui media elektronik dan cetak.

Pola Asuh Orang Tua
Umumnya responden diasuh oleh orang tuanya dalam 3 tahun terakhir(94,6%). Sekitar 92,6% orang tua tahu kapan anaknya pulang dan 84,3% tahu apayang dikerjakan anaknya di rumah. Sebagian besar responden langsung pulang kerumah seusai sekolah (67,4%). Responden yang tidak langsung pulang ke rumahbiasanya karena pergi les (42,2%), pergi ke rumah teman (31%), jalan-jalan kepasar atau pusat perbelanjaan (20%) dan pergi dengan pacarnya (6%).

Pola asuh demokratis diletakkan sebagai pola asuh, di antara pola asuhpermisif dan pola asuh otoriter. Untuk interpretasinya dilihat kecendrungan dariresponden pada salah satu pola asuh orang tuanya. Responden dengan pola asuhpermisif mempunyai peluang 600,92 kali berperilaku seksual berisiko beratdibandingkan demokratis dan otoriter (95%CI=131,9-2736,8). Berdasarkananalisis multivariat pola asuh merupakan faktor yang paling berhubungan denganperilaku seksual setelah dikontrol oleh variabel lain.Penelitian yang dilakukan Prastana tahun 2005 dan analisa WHO padaberbagai literatur kesehatan reproduksi dari seluruh dunia yang menyatakanbahwa pola asuh adalah merupakan faktor risiko perilaku seksual risiko berat.Berbagai interaksi antara remaja dengan orang tua menunda bahkan mengurangiPerilaku hubungan seksual pada remaja karena tidak adanya pengawasandari orang tua akan mempercepat remaja melakukan hubungan seksual. MenurutMesche (1998) remaja yang diawasi oleh orang tuanya, remaja dengan pola asuhotoriter, remaja yang berasal dari keluarga yang konservatif dan memegang kuattradisi dan remaja mempunyai hubungan akrab dengan orang tuanya akanmenunda umur pertama melakukan hubungan seksual.Pengawasan orang tua merupakan faktor penting yang mempengaruhiperilaku seksual remaja. Pada remaja yang diawasi orang tuanya akan menundabahkan menghindari hubungan seksual sedangkan pada remaja tanpa pengawasanorang tua akan melakukan hubungan seksual pertama pada usia lebih dini. DariStudi Kesehatan Remaja Nasional Amerika Serikat yang dilakukan Esther Wilderdari Lehman College di New York dan Toni Terling Watt dari Southwest TexasState University (2006) menyebutkan lebih dari 50 persen remaja yang orangtuanya perokok, ditemukan sudah memiliki pengalaman seksual sejak usia 15tahun. Remaja yang orang tuanya terlibat dalam perilaku berbahaya untuk kesehatan seperti merokok, umumnya memiliki perilaku seksual yang sangat aktif sejak usia sangat muda. Selain meniru perilaku merokok orang tua mereka, anak-anak ini juga minum alkohol, berhubungan seks, menggunakan narkotika atauapapun yang biasa digunakan kawan-kawan sebayanya. Selain itu mereka jugalebih mudah terjerumus dalam tindak kejahatan.

Status Perkawinan Orang Tua
Responden dengan struktur keluarga tidak lengkap mempunyai peluang 3,75kali untuk berperilaku seksual berisiko berat dibanding struktur keluarga lengkap(95%CI=1,71-6,38). Penelitian Prastana tahun 2005 pada remaja Puertorico.Secara teoritis keutuhan keluarga dapat berpengaruh terhadap perilaku remaja.Ayah akan menjadi panutan bagi remaja laki-laki dan ibu menjadi panutan bagiremaja perempuan. Perilaku orang tua merupakan contoh bagi anaknya, umumnyaremaja bermasalah datang dari keluarga yang tidak utuh.
Pengetahuan Tentang Kesehatan Seksual

Remaja dengan pengetahuan relatif rendah mempunyai peluang 11,90 kaliberperilaku seksual berisiko berat dibandingkan pengetahuan relatif tinggi(95%CI=4,56- 28,61). Pengetahuan remaja tentang kesehatan seksual masihrendah, umumnya yang menjawab benar dibawah 50%, hanya mengenai PMS,HIV-AIDS diatas 50%. Hal ini sejalan dengan penelitian Kitting dan Tanjung,serta hasil Survai Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia tahun 2002-2003.Rendahnya pengetahuan pada remaja disebabkan kurangnya informasi yangditerima remaja. Remaja lebih banyak menerima informasi dari media elektronik seperti televisi. Di televisi informasi sebagian besar informasi hanya sebatasmengenai PMS dan HIV-AIDS sedangkan informasi kesehatan reproduksi danseksual masih jarang. Adanya anggapan bahwa membicarakan tentang kesehatanseksual adalah hal yang memalukan dan tabu bagi keluarga dan masyarakatmembuat remaja yang haus informasi berusaha sendiri mencari informasi.Terkadang informasi yang di dapat malah menyesatkan dan setengah-setengah.Menurut Surono (1997) pengetahuan yang setengah-setengah justru lebihberbahaya ketimbang tidak tahu sama sekali, tetapi ketidak tahuan jugamembahayakan. Pengetahuan seksual yang hanya setengah-setengah tidak hanyamendorong remaja untuk mencoba-coba, tapi juga bisa menimbulkan salahpersepsi.



KESIMPULAN

Kekeliruan remaja yang masuk ke dunia seks bebas (free sex) bukansepenuhnya berasal dari diri mereka sendiri, tetapi iklim yang mendukungmenyebabkan remaja banyak bertindak di luar batas dan didukungtoleransi yang longgar dari masyarakat terhadap perilaku yang melanggarmoral dan kebebasan teknologi informasi yang semakin tidak terbendung.
Lingkungan sosial mempunyai peranan besar terhadap perkembanganremaja.
Kehadiran teman dan keterlibatannya di dalam suatu kelompok membawapengaruh tertentu, baik dalam arti positif maupun dalam arti negatif.

Free sex berpotensi besar terhadap virus HIV/AIDS.

Kurangnya informasi yang benar mengenai perilaku seks yang aman danupaya pencegahan yang bisa dilakukan oleh remaja dan kaum muda.Kurangnya informasi ini disebabkan minimalnya
nilai-nilai agama,budaya, moralitas dan lain-lain, sehingga remaja seringkali tidak memperoleh informasi maupun pelayanan kesehatan reproduksi yangsesungguhnya dapat membantu remaja terlindung dari berbagai resikotermasuk penularan HIV/AIDS. 

SARAN

1.Perlu diadakannya upaya pencegahan melalui konseling HIV/AIDS pratest dan post test.
2.Penanaman nilai-nilai agama, budaya dan moralitas pada remaja.
 Peran orang tua, lingkungan dan teman dalam pencegahan free sex.
 Mengadakan seminar untuk remaja dan orang tua tentang kesehatanreproduksi.
 Perlu adanya perhatian orang tua terhadap anak-anaknya.6.
 Perlu adanya Informasi dan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi danseksualitas.
 Membatasi pengaksesan hal-hal yang mengarah dan berbau pornografipada media cetak dan elektronik.


By  .Rey

Tidak ada komentar:

Posting Komentar